Uncategorized

Islam Mengajarkan Kita Menyayangi Binatang

Orang yang tidak menyayangi maka tidak disayangi (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala).” (HR. Al-Bukhari no. 6013)

Siang ini saya dibuat marah oleh berita di tv: ulat bulu sedang banyak menyerang berbagai kabupaten, lalu karena panik, masyarakat membunuh ulat bulu yang sedang menempel di pohon itu dengan cara dibakar. Ya Tuhan... :(

Sejak kecil saya dididik ibu saya untuk selalu menyayangi binatang dan tidak menyiksanya, apalagi membunuhnya. Jangankan membunuh tikus, membunuh kecoa hingga semut pun dilarang ibu. Kata ibu,

Jangan bunuh binatang sekecil apapun itu. Walaupun kecil, itu adalah nyawa. Kamu tidak bisa menciptakannya

Itulah ibu saya, sangat peduli dengan binatang. Sehingga kasus-kasus penyiksaan binatang selalu menjadi masalah bagi kami, termasuk pembakaran ulat bulu tadi. Lalu teman saya memberitahu, "kalau tidak salah, Islam melarang umatnya membunuh binatang dengan cara dibakar, Mit." Saya antusias mendapatkan sedikit pencerahan ini. Maka saya langsung googling, apakah benar Islam melarang membunuh binatang dengan cara dibakar? Dari hasil googling itu, saya justru menemuan fakta baru dari website yang saya temukan ini:

Islam mewajibkan kita untuk menyayangi semua binatang dan dengan keras melarang kita menyiksa binatang dengan cara apapun. :)

Bahkan dalam website tersebut, ternyata Islam mengajarkan umatnya untuk memperhatikan hak-hak binatang. Seperti memberikan makanan dan minuman, tidak memeras tenaga binatang, diwajibkan untuk menajamkan pisau yang akan dipakai untuk menyembelih, dilarang menjadikan binatang yang hidup sebagai sasaran dalam latihan memanah dan semisalnya.

Nabi Muhammad SAW pun pernah memarahi seseorang yang memeras tenaga unta peliharaannya. Nabi SAW berkata,

Tidakkah kamu takut kepada Allah SWT dalam (memperlakukan) binatang ini yang Allah SWT menjadikanmu memilikinya? Sesungguhnya unta ini mengeluh kepadaku bahwa kamu meletihkannya dengan banyak bekerja.

Saya senang sekali mendapatkan informasi ini. Bahwa sesungguhnya Islam adalah agama yang penuh cinta dan kasih sayang, kepada manusia maupun binatang. :)

Pak Zamzam, Guru Inspirasi

Pagi ini saya dibuat terharu hingga menitikan air mata karena membaca cerita dari Artasya tentang Pak Zamzam, guru agama SD Al-Azhar Pusat. Beliau bukan guru saya, namun saya senang membaca cerita tentangnya yang diceritakan oleh Artasya di Twitter. Inilah sosok guru yang luar biasa, yang harus dicontoh para guru, terutama guru Indonesia. Sayang jika cerita indah ini hanya termakan oleh tweet-tweet baru, hingga hilang. Maka saya rangkum dan bagikan disini. Semoga kita semua terinspirasi. :)

@myARTasya:

Semalam saya mimpi guru SD saya dulu. Namanya Pak Zamzam. Beliau amat sangat luar biasa. Bangun-bangun saya merindukannya... Jadi pengen cerita tentang Pak Zamzam. Boleh ya tweeps, karena dia juga salah satu orang yang sangat menginspirasi saya...

Pak Zamzam itu resmi menjadi guru di Al-Azhar Pusat waktu saya kelas 3 SD. Tepatnya di kelas 3A dan wali kelas saya Ibu Atiah. Pak Zamzam masuk sebagai guru agama. Dahinya ada tanda berwarna keunguan. Katanya guru-guru dulu sih karena sering sholat dan bersujud. Kulitnya sawo matang, tinggi sekitar 168 cm, tidak gemuk, selalu berpeci, dan senyum teramah di dunia adalah ciri khas Pak Zamzam. Setiap pagi Pak Zamzam selalu berdiri di depan gerbang untuk menyapa murid, baik yang dia ajar maupun yang tidak. Pak Zamzam stay di depan gerbang dari pukul 6 dan baru akan masuk setelah bel berbunyi pukul 7. Anak-anak biasanya akan berebut salaman dengan beliau.

Suatu hari di Al-Azhar Pusat diadakan lomba bercerita tentang para nabi. Ga tau kenapa pengen aja gitu ikutan. Waktu itu saya kelas 5, 5D tepatnya :D Setelah milih-milih nabi mana yang mau jadi bahan cerita, pilihan saya yang pertama adalah Nabi Ibrahim.

Waktu itu lombanya pas pulang sekolah. Peserta yang mendaftar sekitar 15 orang, dibagi menjadi 3 hari berturut-turut. Lomba diadakan di aula sekolah pada saat jam pulang. Saya dapet giliran itu pas yang hari kedua dan peserta terakhir di hari itu pulaakk! Siape juga yang nonton? Udah pada pulang kaliii (-______- ) Pas peserta sebelumnya mulai, dari belakang panggung saya liat penonton mulai pada pulang. Udah feeling sih, ini mah pas giliran gue, aula kosong. Bener lho, saya naik panggung itu yang nonton cuma: ......... rumput yang bergoyang, juri, dan peserta sebelum saya. NAH! Salah 1 jurinya itu Pak Zamzam!

Pas ending, mungkin intonasi suara saya seakan bersambung. Jadi juri masih pada bengong. Saya juga X) Hari itu rasanya kaki tak bertulang, keringat saya bisa jadi sumur. Dalam hati pengen tereak, "udah selesai kalii!" Tapi juri masih diem nungguin saya lanjut. Kayanya suasana diem-dieman itu berlangsung 40 detik. Lama lho di situasi itu. Sampe salah satu juri, namanya Pak Satiri, nanya, "kamu lupa ceritanya?" Mau pengsan rasanya. Akhirnya saya jawab, "enggak, Pak. Udah selesai kan." Lalu Pak Zamzam berdiri dan tepuk tangan. Dia satu-satunya juri yang tepuk tangan. Pas liat asemnya ekspresi 2 juri lain, saya OPTIMIS: ga masuk final (-_____-) Tapi seenggaknya Pak Zamzam ga bikin saya drop-drop amatlah.

5 hari kemudian, Hari Senin, bertepatan dengan upacara bendera, diumumkan 3 besar dan SAYA MASUK LHO!! Wohooo! Bangga, norak, dan HERAN. Tapi masalahnya belum selesai. Ketiga finalis ini akan diadu lagi Hari Jum'at, saat khutbah sholat Jum'at di depan seluruh murid (baik laki-laki dan perempuan). Murid-murid dari kelas 4-6 bakalan denger kita bercerita. Makin banjirlah keringat saya waktu ngebayangin. Saya lirik Pak Zamzam, dia tersenyum. Akhirnya pulang saya langsung obrak-abrik rak buku, buat nyari cerita nabi siapa yang akan saya baca buat Hari Jum'at nanti. Semua satu-satu saya baca. Pilihan saya jatuh pada cerita Nabi MUSA :D Saya hafalin detail-detail cerita sampe taun-taunnya. DAN  ga hafal-hafal (-____-) Saya stress... Akhirnya saya datengin Pak Zamzam dan bilang, "Pak, saya mau mundur aja daripada malu-maluin nanti Hari Jum'at."

"Memang masalahmu apa?" tanyanya sambil tersenyum.

"Aku ga bisa apal-apal, Pak," sambil sodorin kertas catetan.

"Nak, cerita itu bukan untuk dihafal, tapi untuk dinikmati. Kamu senang membaca?"

"Sangat."

"Kalau kamu sudah dapat menikmati sebuah cerita, otomatis kamu akan mengingatnya dengan indah. Keindahan itulah yang nantinya akan kamu bagikan..."

Dulu beliau ngomong gitu, di kepala saya: OK, saya akan lebih santai membaca dan menikmati. Tapi kalo saya inget sekarang: GILA, KATA-KATANYA KEREN BGT! Akhirnya makin lama saya jatuh cinta sama cerita Nabi Musa.

Hari Jum'at tiba. JENG-JENG. Ngeliatin jam ke jam 10:45 tuh rasanya lamaaa banget. Setiap jarum jam nambah rasanya perut mules seada-adanya. Begitu 10 : 45 semua keluar kelas. Istirahat 15 menit, baru wudhu. 15 menit istirahat saya ke tempat Pak Zamzam. Kata-kata pertama saya pas liat muka beliau di ruang guru, "Pak, aku deg-degan dan aku ingin pipis terus." Pak Zamzam tersenyum dan bilang, "kamu punya waktu 15 menit buat ke kamar kecil dan deg-degan sepuasnya. Setelah itu lakukan sebaliknya." Nurut lah sayaaa. Saya deg-degan 15 menit boookkk! Ke kamar mandi mulu sampe akhirnya bel tanda wudhu dimulai. Abis wudhu, saya duduk di shaft murid perempuan seperti biasa. Nunggu dipanggil sama MC. Tegang gilaaaa... Pas dipanggil sebagai finalis terakhir, jantung kaya ketinggalan. Dan justru malah bagus, deg-degannya jadi ga berasa lagi. Saya sangat menikmatinya. Bercerita atau mendongeng sebuah cerita adalah berbagi, dan saya rasa belum ada yg lebih Indah dari itu. :)

Akhirnya Hari Senin, sekalian upacara bendera, pengumuman deh. Dan dan dan dan dan..... *gagap* Saya juara 1 lhooooooo!!!!!! Wohoooo! *joget* Waktu itu rasanya ga percaya, mau nangis dsb dsb. Dan yang kasih pialanya Pak Zamzam :') Saya megang piala kaya mau nangisss.

Saat istirahat, saya ke kantor guru nemuin Pak Zamzam. Saya kasih beliau gambar dan juga puisi judulnya "Guruku" Isinya saya lupa, ada di beliau. Dan jawaban Pak Zamzam adalah...

"kamu buat ini pas jam pelajaran apa Artasya?" KWAK KWAANGG. Ketauan saya ga nyimak di kelas, malah asik gambar @_@ Tapi abis itu dia tersenyum dan bilang,

terima kasih Artasya. Saya senang sekali. Semoga nanti, kau akan punya ceritamu sendiri.

Jadi saya yakin, saya begini juga adalah bagian dari doa beliau.

Saat saya ingin memberikan buku pertama saya, beliau sudah tidak ada. Waktu kuliah, saya dengar berita Pak Zamzam dipanggil Yang Maha Esa. Justru saat saya tau, kata teman saya beliau meninggal udah lama. :(

Senyum seorang Pak Zamzam mungkin sudah tidak ada, tapi dia telah mengukir jutaan senyum. Di hati banyak orang.

PS: Terima kasih Artasya, karena telah berbagi cerita indahmu dan mengijinkan saya menulisnya disini. Pak Zamzam pasti sedang tersenyum disana. :)

Membagikan Kaos Gratis #MengenangMunir Jogja

Horeee 20 Maret 2011 kemarin akhirnya saya membagikan kaos gratis #MengenangMunir ke tukang becak, tukang sampah, pedagang kecil, hingga mbak penjual sate. Kaos ini diproduksi dengan dana yang dikumpulkan dari hasil lelang kaos pada acara Mengenang Munir, 8 Desermber 2010 lalu.
Tentu saya tidak sendirian saat membagikan kaos. Dengan sebuah mobil box, saya ditemani sang pacar, Savior Band, dan juga Mbak Achi dari WOMAGZ. Beruntung saya ditemani mereka, karena ternyata pembagian kaos gratis hampir sesulit membagikan sembako. :(
Awalnya kita membagikan ke tukang becak depan Mirota Kampus. Suasana tenang dan asyik.

Lalu ke tukang becak di Terminal Terban, ke tukang becak, tukang sampah, tukang koran, dan pemulung di Jalan Sudirman.




Namun saat di Jalan Mangkubumi, kita kewalahan membagikan. Ada sekitar 20 orang menyerbu mobil box kami dan berebut meminta kaos. Padahal banyak dari mereka bukan tukang becak bahkan pengendara motor yang lewat. Nggak malu ya?  Maka dari itu saya tidak memiliki foto saat di Mangkubumi dan Malioboro. Namun setelah itu kami ke depan Jogjatronik dan memberikan kaos kepada para tukang becak dan andong yang lewat.

Sungguh menyenangkan, karena bisa menjalankan kewajiban saya sekaligus membahagiakan orang lain yang mendapatkan kaos. Tapi sedikit menyedihkan saat ada juga yang tidak mendapatkan kaos. Rasanya ingin membagikan ke semua orang. :(
Kaos masih ada yang harus dibagikan ke Jakarta, Bali, dan kota kelahiran Munir, Malang. Sampai jumpa di pembagian kaos gratis berikutnya! :)
PS: Kaos-kaos ini bukan milik saya, melainkan milik para peserta lelang kaos Munir 8 Desember 2010 lalu. Saya janjikan kepada mereka untuk membagikan kaos ini secara gratis ke rakyat kecil yang berusaha. Bukan ke teman saya atau siapapun yang tidak masuk dalam kategori itu. Mohon dimaklumi jika kota lain tidak dibagikan kaos gratis, ini karena keterbatasan kaos. Terima kasih. :)