Uncategorized

Selamat Pagi, Munir

Jogja, 24 Oktober 2011, pagi ini cukup cerah. Jogja tidak kunjung hujan. Apa yang sedang kau lakukan disana?

Disini aku bersedih membaca kasus-kasusmu. Kasus penculikan aktivis, dan bagaimana kau berjuang mengembalikan mereka dalam keadaan selamat. Kasus para mahasiswa yang hilang, dan bagaimana kau menyemangati para keluarga untuk terus mencari. Kasus buruh yang sudah mati dianiaya, dan bagaimana kau memperjuangkan haknya walau mereka telah tiada.

Lalu kini kau pun begitu, dibunuh saat akan menuntut ilmu. Namun tidak ada yang mampu sepertimu, memperjuangkanmu. Aku sangat berduka. Apa yang bisa aku lakukan untukmu?

Kaos #MengenangMunir Sudah Sampai Bali!

Pada 8 Desember 2010 lalu, tepat di ulang tahun Almarhum Munir yang ke-45, saya mengadakan acara #MengenangMunir. Tema utama acara yang saya selenggarakan dibantu oleh beberapa teman ini adalah melelang 45 kaos limited edition bergambar lukisan wajah Munir ini:
Dalam semalam, 45 kaos ini habis terjual dengan dana yang terkumpul hampir 30 juta rupiah. Dari hasil lelang ini, dana saya pakai untuk memproduksi kaos bergambar Munir sebanyak-banyaknya, lalu saya bagikan ke para pekerja yang bekerja di tengah masyarakat agar pesan "Menolak Lupa" bisa dibaca oleh rakyat. Postingan mengenai rencana acara ini bisa dibaca disini dan postingan setelah acara bisa dibaca disini.
Kemudian, 20 Maret 2011 lalu, saya bersama Savior Band dan teman-teman, membagikan kaos gratis ini ke para tukang becak, pemulung, pedagang, dan tukang sapu yang berada di Jogja. Postingan pembagian kaos gratis di Jogja ini bisa dibaca disini.
Seperti yang telah saya janjikan, selain Jogja, kota lain yang menjadi tujuan pembagian kaos gratis Munir ini adalah Denpasar Bali, Jakarta, dan Malang. Permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada para pemberi dana, saya tidak bisa bergerak cepat membagikan kaos karena berbagai kesibukan terutama kuliah. Namun saya terus berusaha konsisten untuk terus membagikan kaos gratis ini seperti yang sudah saya janjikan.
Beruntung sekali saya, atas bantuan Mas Erix Soekamti, saya dikenalkan kepada Mas Robi, vokalis dari band senior di Bali, Navicula. Dengan penuh semangat, Mas Robi bersedia membantu membagikan kaos gratis Munir untuk para pekerja keras yang bekerja di tengah masyarakat Bali. Bahkan Mas Robi dan teman-teman akan mendokumentasikan pembagian kaos ini dengan foto maupun video dan akan dipublikasikan di media Akarumput. Wah saya senang sekali mendengarnya! Apalagi Navicula juga akan merilis sebuah lagu khusus untuk pahlawan kita, Munir. :)
Anyway, ada sedikit cerita dibalik pengiriman kaos Munir dari Jogja ke Bali. Jujur saja, saya tidak tahu berapa banyak kaos yang saya kirimkan ke Bali, khususnya ke Mas Robi. Kaos sudah berada di dalam karung yang sudah dipack sedemikian rupa. Sayang jika saya buka lagi. Sehingga saya hanya tau kaos yang saya kirim seberat 28kg. Saya berusaha mencari jasa pengiriman yang termurah. Saya tentu mencoret JNE dalam list karena walau jasanya terpercaya, namun untuk mengirim barang seberat hampir 30kg, pasti akan sangat memakan biaya. Apalagi biaya bukan dari dana saya sendiri, melainkan sumbangan dari lelang, sehingga saya harus menjaganya. Saya coba ke jasa yang tidak terkenal, katanya biaya jasa 300 ribu dan sampai Bali 2 minggu lebih. Astaga. Jasa ada yang 200 ribu namun tetap sampai Bali 2 minggu. Saya pergi ke Pos Indonesia, katanya bisa hanya 130 ribu namun sampai Bali 2 minggu pula! Hampir saja saya memilih jasa Pos Indonesia, namun pacar saya mengajak saya ke Jasa Pengiriman Elteha. Kami pun kesana menanyakan biaya jasa dan lama pengiriman, lalu jawabannya, "biaya 100 ribu , sampai sana maksimal 3 hari, Mbak." WHAT THE?! Wah girang sekali saya! Sudah murah, cepat pula. Saya tau Jasa Elteha sejak saya kecil. Ini langganan nenek saya. Sehingga saya percaya dan saya pilih mengirimkan kaos Munir ke Bali dengan jasa Elteha.
Sungguh tak disangka, tepat besoknya, di siang bolong, tiba-tiba saya mendapat mention dari @karumput:


So dengan ini saya ingin berbagi info bahwa jasa Elteha hebat juga. :) Buat Mas Robi dan teman-teman Navicula, kita tunggu kabar baiknya! :)

Cover Buku OC Kaligis Mencuri Desain Andrew Anti-Tank?

Tanggal 28 September 2011 kemarin, saya mendapatkan berita: cover buku OC Kaligis yang berjudul "Korupsi Bibit-Chandra" tanpa ijin memakai desain milik teman saya, Andrew dari Anti-Tank Project. Berita lebih lengkap disini.
Tentu Andrew langsung membuat pengumuman di postingannya ini. Dalam postingannya itu, ia berkata, "saya yakin 100% bahwa gambar yang digunakan untuk cover/sampul buku tersebut adalah gambar yang sama, dengan karya gambar milik saya, walaupun ada beberapa modifikasi/perubahan minor pada warna, teks dan unsur visual lainnya."
Ia juga menambahkan, "saya sama sekali tidak pernah membuat cover/sampul buku OC Kaligis yang berjudul ‘Korupsi Bibit-Chandra’, dan saya tidak pernah melakukan hubungan apapun hingga hari ini, baik dengan penerbit ataupun sang penulis buku yang bersangkutan tentang cover/sampul buku tersebut. Maka apapun isi dari buku tersebut tidak ada hubungannya/sangkut pautnya dengan saya pribadi ataupun dengan Anti-Tank."
Saya pribadi membaca pengumuman ini tidak melihat adanya indikasi Andrew akan menuntut OC Kaligis atau penerbit buku tersebut. Namun saya sangat yakin, Andrew menulis pengumuman ini untuk mempertegas bahwa desain itu miliknya dan dia tidak mendukung isi dari buku tersebut. Tentu saja. Karena Andrew membuat desain tersebut untuk kampanye pembebasan Bibit-Chandra tahun 2009. Lalu dengan desain yang 99% sama, OC Kaligis memakainya untuk buku berjudul "Korupsi Bibit-Chandra" Benar-benar dua hal yang berbeda dengan desain yang sama.
Adapun beberapa pihak yang menyalahkan Andrew karena Andrew telah mengijinkan siapapun untuk mendownload desain tersebut secara gratis. Akan tetapi, Andrew hanya membolehkan desain itu untuk kampanye yang sama, bukan untuk yang bertentangan dengan kampanyenya, apalagi untuk kepentingan komersil. Toh jika memang Andrew membolehkan desain ini untuk dipakai siapapun, dengan kepentingan apapun, tetap saja seharusnya penerbit buku OC Kaligis tersebut meminta ijin jika ingin mengubah warna desain, mengubah makna desain, hingga menghilangkan logo Anti-Tank.
Menanggapi hal ini, OC Kaligis menyuruh Andrew melaporkannya pada polisi. Ia mengaku hanya disodori desain oleh penerbit lalu ia memilih desain itu. Mungkin saja dalam masalah ini, yang bertanggung jawab adalah pihak penerbit, yaitu Indonesia Against Injustice. Namun yang saya sayangkan, OC Kaligis berkata pada wartawan Detik, "Kenapa baru sekarang? Enggak penting." Seorang pengacara sekelas beliau mengatakan masalah seperti ini tidak penting? Wawancara bisa dibaca disini.
Buku memang sudah terbit sejak Maret 2010, sehingga masalah ini seperti datang terlambat. Namun jika kita membaca pengakuan Andrew, maka dapat dimaklumi, Andrew baru mempermasalahkannya sekarang karena dia juga baru menyadarinya. Seperti yang Andrew tulis di postingannya. Lagipula, buku diterbitkan tanggal 29 maret 2010, lalu Andrew membuat pengumuman tanggal 1 April 2010. Tidak berselang lama setelah buku diterbitkan. Hanya saja mungkin masalah ini terdengar publik baru sekarang.
Saya kenal Andrew saat saya membuat kampanye Mengenang Munir tahun lalu. Saya ijin memakai desain Munir-nya dan dengan senang hati ia mengijinkannya. Dia dengan Anti-Tank Project-nya sering membuat kampanye yang positif dengan karya-karyanya yang menakjubkan. Beberapa desainnya ia cetak untuk ditempelkan di beberapa sudut Jogja. Dengan masalah ini, saya dengan senang hati membantu menyebarkan dan mendukungnya agar ia terus berani memperjuangkan haknya. Maju terus Andrew, jangan takut. We are with you.