Politics

TwitRadio #1: Kampanye Cagub DKI1 di Social Media

Tadi kesempatan pertama saya menjadi penyiar tamu di acara #TwitRadio Unisi 104.5 FM. Tema pertama acara saya ini sudah cukup berat tapi menurut saya asyik, yaitu "Kampanye Cagub DKI1 di Social Media". Twitter Indonesia, khususnya Jakarta, sedang heboh sekali membahas mengenai calon gubernur (cagub) dan wakil gubernur (cawagub) untuk DKI 1 nanti dan social media, terutama Twitter, telah menjadi media baru untuk berkampanye. Namun apakah signifikan membantu? Sejak reformasi tahun 1998, Indonesia adalah negara demokrasi, yaitu pemilihan pemimpin negara maupun daerah ditentukan langsung oleh rakyatnya. Di negara demokrasi ini, rakyat Indonesia memiliki hak yang sama dalam berpendapat. Bersamaan dengan itu, internet mulai diakses oleh masyarakat Indonesia. Internet yang awalnya digunakan masyarakat hanya untuk browsing dan chatting, sekarang memiliki social media seperti Facebook, Twitter, atau Youtube, dimana masyarakat bisa bebas berpendapat, berkomentar, dan berkreasi lalu disampaikan kepada masyarakat luas. Ini semua berhubungan. Saat rakyat negara ini dapat memilih pemimpinnya secara langsung dan bebas berpendapat, saat itu pula ada media yang mempermudahnya. Peran social media dalam politik yang paling fenomenal terjadi akhir-akhir ini adalah pemilihan Presiden Obama tahun 2008 dan revolusi Mesir tahun 2011 lalu. Nah 2 minggu lalu kampanye cagub DKI 1. Bagaimanakah peran social media pada kampanye ini?

Bintang tamu yang bergabung dalam tema ini ada 3, yaitu Angga Sasongko (sutradara Hari Untuk Amanda) yang menjadi tim sukses salah satu calon DKI 1, Utied Putri (mahasiswa) sebagai Media Analyzst, dan Argadi (mahasiswa) sebagai pengguna Twitter yang merasakan kampanye di social media. Seharusnya ada 2 binta tamu ternama lainnya yang sebelumnya bersedia bergabung yaitu Glenn Fredly dan Erdian Anji. Namun keduanya dengan menyesal mendadak berhalangan untuk bergabung. It's okay Mas Glenn dan Mas Anji! Di lain kesempatan ya! (:

Dalam waktu 2 jam itu kami membahasnya dan kami mendapatkan kesimpulan, antara lain:

  1. Menurut Utied, walau tidak signifikan, namun social media mampu menjadi media untuk berkampanye calon pemimpin khususnya di kalangan anak muda.
  2. Menurut Angga Sasongko, social media memudahkannya dalam usahanya mensukseskan calon gubernur pilihannya.
  3. Menurut Argadi, sampai sekarang belum ada tim sukses yang annoying dan semua masih dalam tahap wajar. Walaupun begitu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan para tim sukses seperti tidak mempercayakan akun Twitter cagub/cawagub pada orang lain selain cagub/cawagub itu sendiri kecuali hanya share link.

PS: Saya on air #TwitRadio setiap Senin, pukul 21.00 hingga 23.00 WIB di Unisi 104.5 FM. Untuk streaming bisa di Jogja StreamersNux Radio, atau Tune In. Untuk Blackberry launcher bisa di http://bb.unisifm.com :)

Saya Kecewa Jokowi Didanai Prabowo

Betapa kecewanya saya saat membaca berita: Prabowo Danai Seluruh Biaya Pencalonan Jokowi-Ahok.

Sejak tau tentang berbagai track record baik dari seorang Jokowi. Saya langsung membatin, wah Indonesia akhirnya memiliki calon presiden yang menjanjikan untuk kesejahteraan rakyat. Indonesia memiliki harapan. Semoga Jokowi mau mencalonkan diri menjadi presiden kita. Saya akan pilih dia. 

Namun harapan itu hancur setelah Jokowi mau didanai oleh seorang yang terduga kuat menjadi pelaku pelanggaran HAM tahun 1998 lalu, Prabowo Subianto. Saya tak perlu menceritakan panjang lebar mengenai track record buruk seorang Prabowo, karena banyak yang sudah menuliskan mengenai fakta tersebut di berbagai artikel dan berita. Tinggal dicari.

Lalu mengapa seorang Jokowi mau bekerja sama dengan Prabowo? Apakah Jokowi tidak tau mengenai track record buruk Prabowo atau lebih karena tidak mau tau? Sebuah pertanyaan besar. Yang jelas pilihan Jokowi telah merontokkan harapan rakyat terutama korban pelanggaran HAM. Ia telah melupakan rakyat yang hampir mendukungnya. Termasuk saya.

Seperti SBY. Mungkin orang sudah lupa, dulu SBY pemimpin yang luar biasa berwibawa dan tegas, terutama dalam menangkap dan menghukum koruptor. Ia juga sering tertangkap kamera menegur anggotanya yang ketauan tidur atau terlambat. Namun sekarang? Hilang. SBY kehilangan wibawa dan ketegasannya. Orang melupakan sosok SBY yang pernah berwibawa dan tegas, sehingga mencapnya lemah. Namun bagi saya dia tidak begitu saja lemah. Pasti ada alasan kuat mengenai perubahannya dari pemimpin yang kuat menjadi pemimpin yang lemah. Seperti misalnya hutang budi. Seseorang yang berhutang budi akan menjadi lemah karena harus membalas budinya. Apalagi menyangkut sesuatu yang besar seperti uang atau kontrak. Ini yang saya takutkan dari Jokowi. Saya khawatir Jokowi harus mau menuruti Prabowo karena berhutang budi padanya. 

Sekarang saya hanya bisa berharap warga DKI Jakarta memilih gubernurnya setelah benar-benar mempertimbangkan pilihannya. Mempertimbangkan dari berbagai catatan rekam jejak dan latar belakang pilihannya. Tidak hanya dari sebuah fakta baik masa sekarang tanpa ingat fakta buruk masa lalu. Semoga warga DKI Jakarta sudah mampu memilih dengan bijaksana.