Thoughts

Don't Pity

Don't pity on me because of my hair.

The hard thing that anyone ever had in this world is facing reality that doesn't work as we want to. Being stupid surrounded by the smart people, being ugly surrounded by the beauty, being a loser, being disabled, being the victim of a broken home, or maybe having a big problem that no one else ever had before. It is hard but we can solve it. We are human beings. We have the power to do that.

But the hardest thing that anyone can have in this world is when the people around us giving the "pity face" and telling us that they are sorry about our problem.

Well people, there's no any other problem in this world that human couldn't face, except facing the people who are pity to us.

People with problems can face it, can solve it, and they doesn't need you to be sorry. Just treat them like any other people.

It's just a problem anyway, you don't need to pity them.

Are You Smart In One of My Definition?

Reading the audience.

Smart is something that you can define in many definition. This is because smart is measured by many activities in human life. Here I want to tell you what is smart in public speaking.

Imagine all the people in the world are in one place. Let's separate the (sorry) stupid people, because here we're talking about the smart one. So now we got the smart poeple in public speaking left. Here are 3 types of smart people in my definition:

1st. People who got smart thoughts, but cannot deliver it well. They got brilliant ideas but it is only hanging around inside their head and cannot change the world. This is maybe because they are too shy or got no talent in conversation.

2nd. People who got smart thoughts, can deliver it well in a charming way, but they cannot read the situation infront of them. We can find these people in college. Their thoughts are amazing and how they deliver their thoughts are fantastic. They use good language in a good sentense. The thing is, they cannot read how interest the audiances are about their thoughts. The audiances are not always interested in our thoughts. Maybe they are tired, or got many things to do, or maybe they only need something to get their spirit back. But these smart people in my 2nd definition doesn't understand about it. They got brilliant ideas, good in delivering it, but doesn't realize that the audiances cannot give attention to them. Sometimes these people are too enjoy with them self in delivering their thought. They spend too much time doing "bla bla" without knowing how's the audiances. It means nothing. These smart people are just the same talking to a kitten.

3rd. This is the last one: people who got smart thoughts, can deliver it well in a charming way, AND they can read the situation infront of them. They can read how interested the audiance are, figure what are the important things they should deliver without wasting any time, and understand how to make the audiance listen to thier thoughts. Maybe they got 5 arguments which they might deliver, but because they know that the audiances are not interested, they only use their 2 important arguments so the audiances can get what is the point without wasting of time.

Unfortunately, only a few of smart people in this definiton.

Adat Berpuasa di Negara Egois

Kenapa ya banyak orang di negara ini (Indonesia), yang ingin dihargai kalau sedang berpuasa? Padahal menurut saya berpuasa itu urusan mereka dengan diri mereka sendiri dan Allah SWT. Namun kenapa tidak sedikit orang di negara ini yang merasa harus lebih dimenangkan hanya karena mereka sedang berpuasa dan parahnya justru merugikan orang lain.

Seperti contohnya restoran atau warung makan. Pada saat Bulan Ramadhan tiba, banyak restoran atau warung makan yang tadinya buka dari pagi hingga malam menjadi buka hanya saat malam saja. Kenapa begitu? Bahkan saya pernah menonton berita di Buser SCTV tahun lalu, para polisi di Tasikmalaya menggerebek warung-warung kecil di pinggir jalan yang masih tetap buka pada saat siang di Bulan Ramadhan. Kenapa harus digerebek? Apa salah mereka? Apakah negara ini negara Islam yang 100% penduduknya adalah muslim? Apakah di negara ini 100% penduduknya semua sejahtera sehingga mereka semua wajib berpuasa? Apakah di negara ini 100% penduduknya orang yang sehat sehingga mereka mampu berpuasa?

Saya mencoba menjawabnya.
Negara Indonesia bukan negara Islam, melainkan negara Pancasila. Terbukti dalam UUD, negara kita meyakini 5 agama lain selain Islam.
Di negara ini, tidak 100% penduduknya sejahtera dan sehat. Sebagian dari mereka tidak wajib berpuasa. Setahu saya, orang yang wajib berpuasa adalah orang yang mampu secara ekonomi maupun jasmani. Sehingga tidak ada salahnya apabila pada saat Bulan Ramadhan, ada seorang pendeta ngemil di sore hari; seorang kuli bangunan minum di pinggir jalan; dan seorang nenek makan di restoran pada siang hari. Yang menjadi semua itu salah apabila ada seorang muslim yang mampu dan sehat melarang kegiatan yang menjadi hak orang lain. Itu salah besar. Allah mengajarkan kita berpuasa untuk menahan napsu, bukan untuk memberikan kita hak melarang orang lain makan di depan orang berpuasa. Lagipula, seharusnya kita menahan rasa ingin makan atau minum dari diri sendiri, bukan meminta orang lain untuk menghormati kita yang sedang berpuasa. Apabila sudah niat berpuasa, seharusnya tidak mengharapkan orang lain untuk tidak makan atau minum di depan kita.

Tidak hanya itu. Pada saat Bulan Ramadhan, banyak kegiatan yang dikurangi. Misalnya sekolah, kuliah, bekerja, dsb. Astaga! Ini bukan Bulan Malas! Ini Bulan Ramadhan! Tidak seharusnya di bulan yang baik ini justru kita bermalas-malasan hanya karena sedang berpuasa. Seharusnya bulan ini dijalankan senormal mungkin seperti bulan-bulan yang lain. Yang membedakan hanyalah: kita berpuasa. Tapi tetap saja, kita terlalu manja dan minta dihargai pada saat menjalankan ibadah, yang sebenarnya urusan kita sendiri dengan Allah SWT.

Yah... Inilah negara bodoh, egois, dan malas. Enjoy the tiresome, people!

Bangsa Indonesia

Kalo aku jadi Burung Garuda pasti aku malu: gagah tapi pemalas.

Kalo aku jadi Merah-Putih pasti aku malu: berani dan suci tapi banyak menindas.

Kalo aku jadi Bangsa Indonesia pasti aku malu: menggunakan 2 lambang yang hebat untuk sesuatu yang murah.

Selamat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-63.

Again and again, thanks to my boifriend, Ari. He asked me to write about this. I kinda copied his idea :P

No Jilbab Please

Saya dongkol dengan quote "Berjilbab tapi tetap menarik"

Yang saya tahu, Allah memerintah kita untuk berjilbab agar tidak menarik.
Yang saya tahu, seharusnya wanita yang berjilbab itu memakai jilbab dengan warna-warna yang tidak menarik, seperti hitam, coklat, atau abu-abu.
Yang saya tahu, seharusnya wanita menggunakan jilbab yang longgar sehingga menutupi lekukan tubuhnya.
Yang saya tahu, jilbab itu tidak harus menutupi rambutnya, tapi HARUS menutupi bagian-bagian yang dianggap akan membuat terangsang.
Yang saya tahu, apapun yang dikenakan wanita untuk menutupi auratnya, apabila gerak-geriknya menarik perhatian, tetap saja wanita sia-sia menutupi auratnya.

Fakta yang terjadi adalah:
1. Wanita (khususnya di Indonesia), justru menghiasi jilbabnya dengan berbagai pernik-pernik mengerikan seperti berlian, manik-manik, atau bordiran yang heboh.
2. Jilbab yang seharusnya berwarna gelap dan tidak menarik, justru kadang diganti dengan warna-warna yang mencolok seperti merah, kuning, oranye, dan pink.
3. Semua orang juga pasti pernah jengkel karena banyak wanita berjilbab justru memakai pakaian yang ketat.
4. Sudah susah-susah menutupi rambut indahnya yang minim membuat terangsang malah kadang bagian-bagian tertentu terlihat, seperti leher, kaki, dan lengan tangan yang justru lebih membuat terangsang.
5. Sudah memakai jilbab yang baik dan benar, namun gerak-geriknya keterlaluan centil. Lari sana, lari sini, dipoto bergaya mecucu, teriak sana teriak sini, jalan megol-megol, dan kadang malah memperlihatkan kemesraan yang berlebihan dengan pasangannya di depan umum.

Buat apa menutupi rambut indahmu apabila semua itu sia-sia? Saya pikir, lebih baik saya memakai kaos oblong, celana pendek, sendal jepit, dan bergerak-gerik anggun; daripada memakai jilbab ketat berwarna merah, dengan manik-manik berlian di kepala, dan bergerak centil dimana-mana. Kalo belum siap untuk tidak tampil menarik, itu berarti belum siap memakai jilbab.

Thanks to my boifriend, Ari. Because of him I got this idea to write my thoughts.

No Televison?

Saya menemukan iklan ini di Bulletin Board Friendster saya:

Dalam rangka menyukseskan gerakan HARI TANPA TV 2008 yang diprakarsai oleh Yayasan Pengembangan Media Anak dan didukung oleh berbagai institusi yang bersedia bergabung, maka akan diselenggarakan:

"FUN DAY WITHOUT TV 2008"
Tanggal : 20 Juli 2008
Waktu : Pk 09.00 - selesai WIB
Lokasi : Taman Monas

Bentuk kegiatan : mengundang dan bekerja sama dengan beberapa sekolah dan perguruan tinggi di Jabodetabek untuk mengadakan lomba, bazaar kecil, membuka booth tanya jawab seputar anak dan TV bagi orangtua dan anak-anak.
Mengapa perlu ada Hari Tanpa TV (HTT)? Ada 2 makna: pertama, ingin membiasakan bahwa tanpa TV pun hidup akan tetap nyaman, Jadi, kita mencoba mengurangi ketergantungan kita, terutama anak-anak, pada TV. Kedua, sebagai ungkapan keprihatinan kita terhadap isi tayangan TV yang tidak aman dan tidak sehat untuk anak.

Yang saya herankan, ada apa sih dengan TV? Kenapa merasa harus bisa hidup tanpa TV? Bukannya TV juga banyak manfaatnya? Kalo toh TV menjadi tidak bermanfaat dan lebih banyak merugikannya, itu salah per individu, bukan TV.

Mengenai tayangan TV yang tidak aman dan sehat untuk anak, maka dari itu ada jam malam kan? Kenapa harus ketakutan? Jam malam berarti anak sudah tidur kan? Kalo anak belum tidur, salah orang tuanya sendiri. Kenapa kita yang tidak punya anak harus repot-repot tidak bisa menonton tv? Bukan egois, but take your own business please. Don't share it with us.

Annoying Comment

It was their fine neighbourhood.

I'm sad. I felt disappointed, unfair, and angry. Totally angry.

Did you know that the Lapindo victims haven't get their rights of their property and their life after these 2 years accident? Yes until NOW, they live like animals: no house, no enough facilities, no dream. So do you think it is annoying if the victims are angry asking for their life back? ABSOLUTELY NOT. So why this guy name Yogie wrote a comment in this blog, saying that the victims shouldn't be a beggar by begging too much and better go transmigrate to Irian Jaya. GOSH!!! It doesn't make any sense! This is the most cruel, foolish, and insensitive comment I ever read. I'm so angry when I read it. His comment tells me that he even doesn't think when he wrote it. What if the victims read it? It will break their heart. They need support not just useless argument.

Well, these are for him. Maybe these will help him to think:

1st. Transmigration NEED money. Transmigration to Irian Jaya NEED A LOT of money. But who's money? The victims already lost their money and properties. So where in the heck did you get that idea?

2nd. They are asking for their life that they have before the accident. That is their RIGHTS. Can you imagine how it feels like if you own a house, then somebody stole it, but no one can help you to get it back? Even no one cares about it! Can you imagine how it feels like? It feels UNFAIR. So don't blame the victims by telling them to stop fighting for their rights!

3rd. Aburizal Bakrie, who is responsible for the accident, is the #1 most rich man in South East Asia. It is so unfair if he lives like in paradise, while his victims live like in hell. Unfair. So do you still think, it is wrong if the victim kept begging their rights? Don't judge the victim are beggar, because they aren't. They did not beg for money, they beg for their stolen life.

4th. Please use your brain before you wrote something. What you wrote is what people think about you. And I think you are such a smart-ass, I mean, SOK TAU.

For Lapindo victims:
Please ignore such an insensitive people like him.

Are We Really Awake?

too weak to wake-up.

I felt disappointed by the news on every media in this country.

Too much information about the accident that killed an actor, Sophan Sophian, but less information about our two national heroes, Ali Sadikin and S.K Trimurti, who just passed away 2 days ago. Sophan Sophian is a good man (like what I heard on tv), but compared with what did Ali Sadikin and S.K Trimurti have done, Sophan Sophian is nothing. So why these media keep showing how sorry they are to lose an actor (who once ever be a member in DPR) and forgeting about the real national heroes?

Is this what we call "Kebangkitan Bangsa"? Are we really awake? Or we are too weak for that?

I think from now on, I should call this country Ironic.

Well welcome to Ironic, people. Please enjoy the tiresome.

Pemblokiran Youtube

Click Here To See Bigger Picture.

Saya menulis ini memakai Bahasa Indonesia, karena takut ada anggota pemerintahan Indonesia yang tidak mengerti Bahasa Inggris. Bukan maksud menghina, tapi bukankah begitu? Youtube aja diblokir my man!

Beberapa menit yang lalu saya mendapatkan informasi bahwa beberapa situs yang memuat video film Fitna, diblokir untuk mencegah gangguan hubungan antar umat beragama dan keharmonisan peradaban pada tingkat global. Pemerintah yang baik memang memiliki keinginan yang mulia. Namun sayangnya mengambil langkah yang salah: memblokir situs Youtube. Youtube adalah situs yang menurut saya sangat bersih. Situs ini tidak sudi dan selalu menghapus segala macam video yang dianggap porno. Situs ini adalah salah satu situs yang dapat memberikan informasi-informasi penting, yang bagi kebanyakan orang kadang terlewatkan. Terakhir saya ketinggalan informasi penting mengenai suatu berita yang akhirnya dapat saya tonton berkat Youtube. Sekarang bagaimana saya mendapatkan itu semua? Tidak tau. Saya ketinggalan berita, ya sudah, bye-bye, saya tidak akan bisa menonton berita itu. Ini dia kesalahan pemerintah, memblokir suatu hal dengan mengorbankan hal lain yang sebenarnya lebih penting.

Pemerintah tidak berfikir ke depan. Dia tidak menghitung-hitung dahulu seberapa besar manfaat yang dapat diambil dan manfaat yang dibuang dari pemblokiran ini. Memang film Fitna ini film kontroversial, namun informasi lebih penting bagi kita. Kalo takut rakyatnya bertindak bodoh dalam menanggapi film ini (misal demonstrasi brutal), beri rakyat pendidikan yang layak dong. Sudah bisa diprediksi kan, bahwa orang yang melakukan demonstrasi brutal bukan dari kalangan terpelajar semisal dosen atau dokter? Mereka tidak melakukan itu karena mereka memiliki kesibukan yang lebih penting daripada sekedar di jalan berdemonstrasi secara brutal itu tadi.

Bagi saya film Fitna karya Geert Wilders itu tidak bermutu. Hanya opini seseorang yang sebenarnya nonesence. Lebih seperti anak TK yang sedang memaki temannya. Namun kenapa pemerintah malah justru meladeninya dan mengorbankan informasi bagi bangsanya? Bukankah ini malah justru akan menciptakan chaos dalam negeri ini? Apakah memang rencana pemerintah Indonesia adalah menciptakan chaos? Itu perasangka buruk saya. Perasangka baiknya, pemerintah gagap IPTEK, sehingga mereka tidak tau seberapa besar manfaat situs-situs yang sudah mereka blokir dengan sadisnya.

Sebenarnya yang kita butuhkan bukan ditutup matanya dari realita dan dunia luar. Yang kita kita butuhkan adalah pendidikan dan informasi yang maksimal untuk menanggapi realita itu secara cerdas dan bijaksana.

Update:
Apabila kalian setuju untuk menghentikan pemblokiran ini, beri dukungan kalian disini, yaitu petisi untuk menghentikan pemblokiran atas situs-situs internet di Indonesia.