Thoughts

Fakta Sepedaan

Terima kasih atas ngetrendnya dunia persepedaan di Indonesia khususnya Jogjakarta. Saya yang tadinya lupa dengan adanya transportasi bernama sepeda sekarang justru otaknya tentang sepeda melulu dan kakinya gatel pengen nggenjot melulu.

<br>

Pertama kali saya nggenjot sepeda setelah bertahun-tahun tidak pernah nggejot adalah ketika mobil saya mogok padahal harus kuliah jam 7 pagi. Dari sinilah saya menemukan beberapa fakta tentang bersepeda. Saya jadi bangun tidur lebih awal, asyik menyiapkan pakaian yang cocok untuk bersepeda, lalu nggejot ke kampus. Sampai kampus justru kecepetan.  Tidak biasanya saya kecepetan masuk kelas. Saat dosen datang dan mengajar, saya heran, saya tidak ngantuk! Wow wow! Namun sayangnya, walau sepeda membuat saya tidak ngantuk di kelas, tapi sepeda membuat pikiran saya menjadi tidak fokus ke materi kuliah karena terus-menerus memikirkan nggenjot sepeda lagi. Sampai akhirnya kuliah selesai, saya kegirangan, lalu nggejot pulang. Sampai rumah ngos-ngosan sehingga terpaksa tidur. Perlu dicatat, saya juga jadi lupa makan! Bangun tidur kaki gatel lagi pengen nggenjot lagi. Lalu malamnya saya dan pacar nggenjot dari Jalan Kaliurang sampai Malioboro dan pulang hingga pukul 1 malam lalu tertidur pulas. Bisa ditebak besok paginya kaki saya gatel pengen apa? Hehehe.

<br>

Itulah faktanya, sepedaan itu nagih. Bagi yang tidak punya sepeda, jangan pernah mencoba nggenjot, karena jika sudah ketagihan padahal tidak punya sepeda itu akan sangat menyakitkan jiwa dan raga.

Gerakan Agar Sinetron Indonesia Harus Mendidik

putriyangditukar

Apakah sinetron harus mendidik? Saya tak pernah merasa terdidik saat menonton Opera Van Java atau Ceriwis. Yang saya rasakan hanya terhibur, bisa tertawa, dan meniru cara mereka melucu. Atau tidak sekedar meniru, tapi improve joke-nya.

Oh mungkin inilah yang disebut mendidik. Apa yang kita saksikan dapat menjadi potensi yang positif di kemudian hari. Menonton Sule yang sangat lihai bermain kata lucu di Opera Van Java, membuat kita kreatif karena kita diberi pertunjukkan yang kreatif. Otak kita harus berfikir saat menerima maksud guyonannya lalu di kehidupan kita bisa menirunya untuk menghibur orang lain. Para pelawak lainnya pun merasa harus lebih lucu dari Sule dan mereka berusaha berlatih melucu agar mengalahkannya. Secara tidak langsung Sule telah mendidik kita. Mendidik para penonton maupun saingannya. Begitulah entertainment, memberi contoh yang baik yang bisa kita tiru untuk di kehidupan masyarakat dan bisa menjadi pemicu kualitas entertainer lainnya.

Film Amerikalah yang selama ini paling banyak menghibur sekaligus mendidik saya. Menunjukkan saya betapa sulitnya membuat film, betapa sulitnya membuat cerita, betapa sulitnya berakting, betapa banyaknya sejarah dunia, hingga betapa manusia memiliki banyak karakter yang akan kita temui seumur hidup. Film Amerika secara tidak langsung mendidik para penonton dan para pembuat film lainnya.

Lalu bagaimana dengan sinetron Indonesia? Seperti yang diceritakan kakak saya, Mas Herman, dalam sinetron Putri Yang Ditukar, adegan-adegannya sungguh tidak masuk akal dan tidak mendidik. Adegan menyelamatkan diri dari api terlalu mengada-ada. Apakah bisa ditiru di kehidupan nyata? Tidak hanya itu, apakah produksi sinetron ini telah memanfaatkan kreatifitas anak bangsa? Tidak. Apakah ada perkembangan yang signifikan dalam memperbaiki kualitas sinetron? Tidak. Tayangan sinetron Indonesia tidak berkembang. Karena sudah dianggap memuaskan konsumen Indonesia, lalu stagnan disitu saja. Tidak diperbarui, tidak menambah kualitas, tidak membuat para produsen sinetron berkompetisi untuk membuat yang berkualitas dan menakjubkan. Otak penonton dan pembuat sinetron menjadi seperti sinetronnya, stagnan tak berkualitas.

Maka ya, sinetron kita tidak mendidik penonton maupun pembuatnya. Tidak memberi contoh yang bermutu dalam kehidupan masyarakat dan tidak memberi efek kompetisi yang berkualitas di kalangan pembuat sinetron.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Ada protes yang dilakukan oleh seseorang yang misterius. Protes ini menarik dan kritis. Kita diajak untuk mengumpulkan koin untuk menyumbang para pemain sinetron Indonesia agar tidak membintangi acara tidak bermutu dan berkualitas seperti Putri Yang Ditukar, Cinta Fitri, dan sebagainya. Mari bergabung di Gerakan Koin untuk Artis Putri Yang Ditukar. Hingga saat ini sudah ada 1,339 member yang turut mendukung. Semoga kemuakkan kita bisa membuat mereka berfikir dua kali dalam memproduksi tayangan tidak mendidik.

Baca juga:

  1. Absurditas di Putri yang Ditukar – Nonadita
  2. Gerakan Koin untuk Sinetron Putri yang Ditukar – Herman Saksono
  3. Masih Mau Nonton Sinetron? – Leksa
  4. Belajar dari Nodame – Suprie
  5. Kualitas Buruk yang Terus Dipertahankan – Aankun
  6. Homo Sinetronosus – Pak Guru
  7. #41: Sinetron – Masova
  8. Ikutan Membahas Sinetron – Adhi Pras
  9. Sinetron Indonesia Miskin Cerita – Fudu
  10. Menalar (Polemik) Sinetron – Gentole
  11. Balada Argumentasi Sinetron yang Tertukar-tukar – Amed
  12. Putri yang Ditukar – Mamski
  13. Pilih Sinetron atau si Bolang? – Memethmeong
  14. Jangan Tukar Isu Putri Yang Ditukar - Nonadita
  15. Putri yang Ditukar – Wikipedia (coba baca deh plot awalnya, harusnya Ikhsan meninggal)
  16. Yang Putri Yang Ditukar – Choro
  17. Barang Yang Sudah Terlanjur Dibeli Tidak Dapat Ditukarkan – Joesatch
  18. Masygul – Aris

MICROSOFT BLOGGERSHIP 2011: Membantu Indonesia dengan Internet

  

 

Pernah ada seorang teman yang mencibir saat saya mengusulkan agar tulisan-tulisan politiknya dimasukkan di internet seperti Twitter atau blog. Dia tidak setuju karena lebih baik mengirimkannya ke surat kabar walau hanya ke surat kabar yang terkenal mesum itu, harus menunggu lama, atau bahkan menerima kenyataan tulisannya tak pernah dimuat. Dia lebih memilih begitu. Karena baginya, internet adalah dunia maya, banyak tipuan, tidak bertanggung jawab, dan tidak bisa membantu rakyat. “Kamu membuang-buang waktumu untuk sesuatu yang tidak bertanggung jawab dan berguna untuk rakyat, Mit.” Dia salah. Saya yakin internet justru kebalikan dari dugaannya. Bagi saya, internet adalah tempat untuk membangun nama baik dan akhirnya dapat membantu kita menciptakan suatu aksi positif. Dalam dunia internet, mereka yang tidak bertanggung jawab akan tereliminasi dengan sendirinya dan mereka yang sudah terpercaya akan mudah mendapatkan dukungan. Namun saya tidak punya bukti kuat dalam berargumen dengannya. Saat itu saya belum pernah menggunakan internet hingga selevel itu. Tapi Tuhan memang baik. Sayapun dibantu-Nya untuk membuktikan bahwa teman saya itu salah. :D 

Mimpi saya adalah membantu Indonesia, maka saya ingin membuktikan bahwa internet mampu memfasilitasinya. Di Bulan Agustus lalu, saya dan geng (Muthia, Ajeng, Adel, Depoy, dan Nadda) berniat mengunjungi Panti Asuhan Sayap Ibu Khusus Anak Cacat di Jogja. Kami ingin membelikan kebutuhan mereka dan membawakannya kesana. Dari sini munculah ide, kenapa tidak kami menggalang dana dari Twitter dan blog? Teman-teman saya setuju dan kami mulai mengumpulkan sumbangan dari Twitter kami. Sungguh mengagetkan, hanya dalam waktu 4 jam, sumbangan yang terkumpul sebesar 3 juta rupiah! Kepercayaan dari para followers tentu tidak boleh diremehkan. Lalu muncul lagi ide, kita harus bertanggung jawab dengan melaporkan seluruh proses kegiatan menyumbang panti ini di Twitter. Maka seluruh proses kegiatan kami itu saya postingkan di Twitter dengan hashtag #SumbangPanti. Mulai dari mengambil transferan sumbangan di ATM, total sumbangan, kegiatan belanja, total belanja, hingga penyerahan sumbangan ke pengurus panti, semua saya laporkan dengan foto yang di-upload di Twitter. Ternyata followers kami sangat menyukainya. Tanggung jawab yang kami berikan membuat mereka semakin mempercayai kami. Bahkan ada salah satu pengacara ternama Indonesia men-DM saya, “jika ada aksi serupa, mohon saya dihubungi,” selanjutnya beliau selalu memberi sumbangan 3-6 juta. Semangat dan dukungan dari followers ini membuat kami terdorong membuat aksi serupa ke panti asuhan lain, yaitu Panti Asuhan Gotong Royong Jogja. Hanya dalam waktu 2 hari, melalui Twitter kami dapat mengumpulkan sumbangan sebanyak 6 juta rupiah. Tentu kami tidak lupa untuk tetap melaporkan seluruh proses kegiatan sumbang panti ini di Twitter kami masing-masing. 

2 pengalaman sebelumnya membuat kami lebih mudah dalam menggalang dana untuk para korban bencana Merapi. Kali ini kegiatannya kami sebut #PeduliMerapi. Dengan dibantu teman-teman lain, celeb Twitter, dan akun Twitter khusus bencana Merapi, kami berhasil saling bertukar info bantuan untuk pengungsi. Dari penyebaran info yang begitu cepat dan luas ini, membuat kami berhasil menggalang dana yang cukup besar. Dalam waktu kurang dari 1 bulan, sumbangan untuk korban Merapi yang dipercayakan kepada kami terkumpul lebih dari 90 juta rupiah! Uang yang tidak sedikit untuk dipercayakan kepada remaja seusia kami. Tapi mereka percaya dan justru terus mendukung kami. 

Sangat luar biasa merasakan kepedulian rakyat Indonesia saat itu. Sampai-sampai saat diwawancara secara live oleh sebuah radio ibukota dan disambungkan dengan seorang pemerintah bagian bencana, saya menangis. Saya menangis karena tidak kuat menahan haru dan bangga bahwa rakyat Indonesia, dengan internetnya, dapat menyumbangkan informasi dan kebutuhan hidup korban bencana jauh lebih cepat dari pemerintah. :’) 

 

Namun ternyata kepedulian rakyat Indonesia tidak hanya sebatas untuk para korban bencana dan kemiskinan saja, tetapi juga untuk kasus-kasus sosial lainnya. Terbukti dengan besarnya kepedulian mereka mengikuti gerakan yang saya adakan tanggal 8 Desember lalu, untuk mengenang tokoh HAM Indonesia, Munir. Awalnya saya berencana mengadakan lelang kaos Munir di akun Twitter saya saja. Tetapi ternyata rencana gerakan saya ini mendapat dukungan yang sangat kuat dari berbagai tokoh Indonesia. Mulai dari wartawan, sutradara, penyanyi, hingga anggota DPR. Semua saya temui dari Twitter. Salah satunya seorang sutradara Angga Sasongko. Berkat Mas Angga, info ini sampai ke Glenn Fredly. Keduanya mendorong saya untuk membuat acara ini menjadi acara yang bisa dihadiri oleh masyarakat. Karena dorongan mereka, saya menjadi sangat bersemangat dan menyanggupinya. 

Saya membuat acara ini tanpa team. Untung internet membantu saya mendapatkan dukungan. Mulai dari penyebaran info di internet dan media massa, design kaos Mengenang Munir, bintang tamu (Glenn Frendly, Pandji Pragiwaksono, Efek Rumah Kaca, dan Positive Energy), sound system, hingga venue dan sumbangan 10% keuntungan dari Es Teler 77, saya dapatkan dengan sangat mudah dan semua gratis! Sekali lagi, semua bantuan dan dukungan saya dapatkan hanya dari internet. 

Acara malam itu sukses dengan terjualnya seluruh 45 kaos Munir melalui lelang tertinggi 5 juta dan terendah 250 ribu. Padahal tidak mengeluarkan biaya sedikitpun tetapi justru mampu mengumpulkan dana kampanye Munir lebih dari 30 juta dalam semalam! Banyak yang memuji saya karena keberhasilan ini. Seperti saat di tengah keramaian tamu acara malam itu, istri Munir, Suciwati, memeluk saya dan berkata, “kamu hebat sekali melakukan ini semua sendirian!” Sayapun menggeleng-geleng dan berkata padanya, “bukan saya yang hebat Mbak, tapi rakyat Indonesia dengan internetnya.” Mbak Suci hanya tertawa dan tambah memeluk saya. ;) 

Itulah internet, mampu mewujudkan mimpi saya untuk membantu Indonesia. Mengingat teman saya yang meremehkan kemampuan internet itu sudah tidak penting lagi. Yang lebih penting, apa lagi ya yang bisa saya lakukan untuk Indonesia? Membuat aksi melindungi TKW? Membuat rumah peduli hewan terlantar? Menciptakan perpustakaan di desa? Atau kampanye internet murah dan cepat? Banyak sekali dan semua pasti dapat diwujudkan dengan internet. Tetapi saya tidak mungkin bisa melakukannya sendirian. Ada yang ingin membantu? Sini saya gandeng. :) 

 

 

 

 

Aisenodni

Saya sedih hidup di negara ini. Negara dengan bangsa yang berbudaya terbalik-balik. Setiap hari semakin banyak list budaya Indonesia yang semakin terbalik dari yang seharusnya. Bagaimana negara ini akan dikagumi oleh rakyatnya sendiri apabila selalu menyimpang?

Kebebasan

Kebebasan semacam berargumen dengan orang tua atau gurunya, memiliki pemikiran lain mengenai agama, atau berfikir kreatif walau nakal, adalah tabu dan dilarang keras dalam budaya kita. Namun budaya kita membebaskan kita mengusik kebebasan kehidupan orang lain. Bertanya, "agamamu apa?", "Sudah sholat belum? Lho kok nggak sholat?", "Orang tua kerja dimana?", "Ih kok gitu sih! Dosa kamu!", "Kok belum menikah? Kan sudah umurnya?", "Oh orang tuanya dosen? Pantes masuk UGM!" Kebebasan yang seharusnya tabu justru menjadi budaya yang lumrah dan kental di Indonesia.

Peras Pedagang, Bantu Pengamen

Bangsa ini sangat menghormati dan membantu para pemalas dan peminta: pengamen, tukang parkir, dan pengemis (pengemis anak atau yang muda dan sehat). Namun bangsa ini sangat pelit dan melecehkan mereka yang berusaha keras mencari nafkah: menawar sadis ongkos becak dan dagangan di pasar, galak terhadap sopir, menghina pembantu, dsb. Ada apa dengan logika bangsa ini? Kenapa yang berusaha justru kita peras dan hina, namun para pemalas justru dibantu dan dikasihi?

"Kembali ke masing-masing individu saja"

Quote ini saya dapat saat berdebat politik dengan seseorang. Saya rasa quote itu tidak tepat jika ditujukan untuk topik perdebatan kita. Politik adalah masalah bersama, jadi kembali ke masing-masing individu sama saja memperparah keadaan politik. Jika semua orang berfikir politik untuk masing-masing individu, maka semua orang akan egois dan memikirkan diri sendiri. Namun sebaliknya, berdebat agama di tengah bangsa kita adalah masalah bersama bukan individu. Orang lain boleh menentukan "Dia dosa karena mencat rambut" atau "Ia dosa karena orientasinya berbeda dengan kepercayaan kami." Bukannya memberikan hak  untuk kembali ke diri masing-masing individu sendiri.

Ketiga hal di atas cukup memperkuat keresahan saya terhadap Indonesia. Namun negara ini sedang labil, sedang belajar, sedang butuh rakyatnya untuk saling membangun. Saya akan membenci diri sendiri jika hanya menyalahkan Indonesia saja. Saya ingin membantu Indonesia mulai dari detik ini. Ada yang mau ikut? Sini saya gandeng. :)

Tindakan Mbah Maridjan Kurang Bijak

Saya kurang bersimpati dengan tindakan Mbah Maridjan (BUKAN ORANGNYA). Beliau adalah panutan warga di daerah berbahaya. Namun memberi contoh tindakan yang tidak sesuai keadaan sehingga menimbulkan korban nyawa, itu bukan panutan yang semestinya.

Ini bukan 100% salah Mbah Maridjan. Namun Mbah Maridjan salah satu yang kurang bijak, selain kurangnya edukasi mengenai bencana kepada warga dan ketegasan dari pemerintah terhadap tindakan Mbah Maridjan dan warganya yang tidak mau turun ke daerah yang lebih aman.

Jika ada yang mengatakan ini amanah dan kepercayaan, lalu darimana kah itu? Saya serius bertanya, kepercayaan apa yang menyuruh manusia tetap tinggal di daerah yang positif berbahaya? Tuhanku, Allah SWT, sangat menyayangi umatnya yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah years of research, bukan hasil pikiran ketika duduk termenung. Pengetahuan mengenai gunung meledak sehingga warga harus mengungsi sesegera mungkin karena berbahaya (dapat menimbulkan luka bakar dan sesak napas bahkan meninggal) adalah sesuatu yang harus kita patuhi, bukan sepelekan.

Mbah Maridjan memang tidak mengajak warganya untuk ikut mengekori dirinya yang tetap tinggal di daerah positif berbahaya, tapi beliau adalah panutan. Tanpa harus mengajak warganya, panutan tetap menjadi panutan untuk diikuti warganya. Panutan tetap tinggal, maka pasti ada pengikutnya yang turut tinggal. Padahal ini bukan tetap tinggal di sembarang daerah, ini tetap tinggal di daerah positif berbahaya. Itu masalahnya. Lagipula, jika ada 1 orang pun yang tidak mau dievakuasi karena kepercayaannya, apakah kita akan mendiamkannya saja dari keadaan berbahaya itu? Saya menjunjung tinggi perbedaan kepercayaan. Namun jika suatu kepercayaan itu menimbulkan korban nyawa, saya tidak bisa memakluminya lagi, saya harus membantu menghentikannya, dan ingin menunjukkan hal ini tidak boleh ditiru lagi.

Membahas orang yang sudah meninggal memang tidak baik. Tapi membahas tindakan orang yang sudah meninggal untuk menjadi pelajaran bagi kita ke depannya itu perlu. Bukankah Tuhan menyukai kita yang menyukai pelajaran? :)

PS: Rest In Peace for Mbah Maridjan

Cerita Sahabat Almarhum Munir

Three Musketeers: Rachland Nashidik, Munir Said Thalib, Rusdi Marpaung.

Hari ini saya diberi link oleh Oom Rachland Nashidik (@ranabaja) cerita tentang almarhum sahabatnya, Munir. Saya sangat terharu dan sedih hingga akhirnya menangis saat membaca cerita ini :(

Cerita ini semoga membuat kita tidak lupa bahwa kita pernah memiliki tokoh HAM besar yang hebat dan langka, yang dibunuh namun kasusnya tak pernah terungkap. Dengan ini saya ingin membagikan spirit agar kita semua menolak lupa dan memiliki jiwa seperti almarhum aktivis HAM kita tersebut.

Berikut ceritanya...

PANGGILAN telepon itu dari Todung Mulya Lubis, Ketua Badan Pendiri Imparsial. Siang itu, Selasa (7/9), saya ada di Manado, dan telah duduk bersama pembicara lain dalam diskusi publik mengenai RUU TNI. Namun, setelah telepon genggam saya kembali bergetar untuk ketiga kalinya, dengan berbisik saya menerimanya.

Di ujung, suara Bang Mulya serak dan setengah berteriak: "Munir meninggal! Munir kita!" Selanjutnya hanya ada saya dan berita duka yang mencabik-cabik itu. Saya keluar dari ruangan dan duduk menyendiri. Tak mau ditemui orang.

Saya mengenal Munir sejak tahun 1994 dan menjadi amat akrab dalam empat tahun terakhir ini. Praktis tiap hari saya bertemu, bekerja, berdebat, atau sekadar ngobrol dan bercanda dengannya sambil minum kopi di halaman belakang kantor kami. Sebenarnya, ia bukan peminum kopi. Ia juga sudah lama berhenti merokok. Namun, manakala sedang merasa amat penat, ia memesan kopi tanpa gula dan sesekali merokok. Saya katakan padanya, satu-satunya kesamaan dia dengan sahabat saya lainnya, Hendardi, adalah mereka sama-sama suka kopi tanpa gula.

Munir adalah tokoh besar dengan reputasi internasional yang amat bersahaja. Kurang dari setahun ini, ia baru memiliki mobil: Toyota Mark II tahun 80-an warna putih, yang ia beli secara mencicil. Sebenarnya, saya dan Ucok Marpaung berusaha agar kantor bisa membeli "mobil dinas" untuknya. Namun, ia berkeras membeli mobil sendiri.

Ia bangga dengan mobil itu, tepatnya pada perangkat CD dan sound system di dalamnya yang ia beli di Bekasi. Tiap kali saya ikut dalam mobilnya, hal pertama yang ia lakukan adalah meraih remote control dan menyetel musik, sering kali keras-keras: U2, Scorpion, Leon Hainess Band, The Bread, Genesis, Metallica, Incognito dan juga Bethoven. "Mobilku tua tetapi di dalamnya aku bisa tidur sambil mendengar musik," katanya. Bagi saya, itu adalah caranya untuk mensyukuri apa yang ia punya.

Sebelumnya, dari rumah kontrakannya di Bekasi ke kantor kami di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, tiap hari Munir naik sepeda motor bebek. Tiap kali tiba di kantor, ia kelihatan amat lelah, meski tak pernah kelihatan tak bersemangat.

Motor berpelat "N" itu adalah miliknya yang kedua. Motor pertama sempat hilang, namun ketika malingnya tahu motor itu milik Munir, motor itu dikembalikan. Beberapa bulan kemudian motor yang sama dicuri lagi dan tak pernah kembali. "Pasti maling yang ini lebih miskin dari yang sebelumnya," komentarnya sambil tertawa. Realistis tanpa kehilangan rasa jenaka. Itulah caranya menerima realitas.

Munir dikenal amat jujur. Bahkan, karena kejujurannya, ia sering amat keras pada diri sendiri. Sebagai penerima Right Livelihood Award, ia berhak atas hadiah ratusan juta rupiah. Apa yang dilakukan? "Aku dikenal orang karena penderitaan korban pelanggaran hak asasi manusia," katanya. "Jadi, aku serahkan uang itu pada KontraS agar bisa terus membela para korban. Aku minta sedikit saja. Biar aku bisa punya rumah sendiri di Malang."

Suatu hari di tahun 2003 ia harus dirawat karena ginjalnya membengkak. Awalnya ia tidak bersedia dirawat di rumah sakit, namun akhirnya mengalah dan memilih masuk kamar kelas 2. "Yang penting perawatan dan dokternya," katanya. Saya berkeras memindahkannya ke VIP agar dia bisa beristirahat sendiri di kamar. Dia menolak dan hanya setuju setelah saya ingatkan, tamu-tamu yang menjenguknya terlalu banyak dan mengganggu pasien lain. Saya katakan juga, sebagai orang sakit, tugasnya hanya segera sembuh. "Urusan lain adalah tugas orang yang sembuh."

Namun, dalam keharusannya untuk beristirahat pun, ia masih bekerja. Suatu malam Bang Mulya menghubungi saya dan menggerutu. "Munir itu membawa laptop ke rumah sakit. Bagaimana dia mau istirahat?" Saya datang malam itu juga dan mengambil laptop yang sedang ia gunakan. Ia diam saja. Namun, belakangan saya dengar dari Suci, istrinya, komentarnya tentang saya, "Aku sekarang punya istri kedua...".

SEKARANG Munir telah mendahului kita, namun ia sebenarnya tak pernah benar-benar pergi. Dari kesederhanaannya ia telah mewariskan sesuatu yang amat berharga.

He is a truly committed human rights defender. Namun, meski tidak sempat ia selesaikan, Munir juga seorang human rights thinker. Ia bergerak melengkapi dirinya dari seorang aktivis menjadi seorang pemikir. Ia tidak berhenti membaca buku, menulis, dan berdebat. Namun, ketajaman dan orisinalitas gagasannya yang sering mengejutkan, justru ia dapatkan dari pergelutannya yang menantang risiko dengan kasus-kasus pelanggaran hak-hak asasi manusia.

Munir memberi kita, kepada Indonesia, sebuah standar pencapaian dalam bekerja mempromosikan dan melindungi hak-hak asasi manusia. Mulai sekarang, setiap kali orang membayangkan sosok ideal seorang human rights defender di Indonesia, orang akan selalu merujuk dan membandingkannya dengan Munir. Mulai sekarang, kita semua, tiap orang Indonesia, tak akan meminta kurang dari apa yang telah diberikan Munir.

Sering orang mulai menghargai sesuatu manakala ia telah kehilangan. Itu benar tentang relasi saya dengan Munir. Bagi saya, selama ini ia adalah seorang rekan kerja, sekutu dalam keyakinan, direktur eksekutif Imparsial, my boss. Selama ini, saya memandang dan memperlakukan relasi kami secara rasional, bahkan dalam momen-momen yang seharusnya amat personal. Baru sekarang saya sadar, sebenarnya relasi kami lebih dari itu.

Malam ketika ia berangkat ke Belanda, sesaat sebelum menaiki pesawat, ia mengirim pesan pendek ke telepon genggam saya. Sebuah pesan yang ia kirimkan juga pada Ucok. "Lan, Cok, aku berangkat. Titip kantor, anak, dan istriku."

Seminggu sebelumnya, ia juga mengirim pesan pendek dari tempat kursus bahasa Inggris. "Lan, kau di mana? Aku udah kangen nih." Saya tunjukkan pesan pendek itu pada kawan-kawan sambil tertawa, lalu membalasnya, "Sudah kubilang, aku menolak jadi istri kedua."

Munir adalah sahabat saya. My damn good friend! Saya merasa terhormat, bukan saja karena telah mendapat kesempatan untuk bekerja dengan seorang tokoh muda bereputasi internasional kelahiran Indonesia, a world class human rights defender, namun terutama karena bisa bersahabat dengan seorang pribadi yang santun, jujur, dan amat bersahaja.

Cak, terima kasih!

(KOMPAS, 11 September 2004)

Terima kasih banyak Oom Rachland yang telah membagikan cerita menarik dan inspiring ini.

Rapat Pansus Bank Century Mengundang Kebohongan: Dibyo Prabowo Bunuh Diri

Alm. Prof. Dr. Dibyo Prabowo, M.Sc.

Berita sore ini mengejutkan saya. Dalam rapat Pansus Bank Century, Koordinator Perwakilan Nasabah Bank Century, Z. Siput L. menyatakan Prof. Dr. Dibyo Prabowo, M.Sc. adalah satu dari empat korban bunuh diri atas kejadian skandal Bank Century, karena beliau kehilangan Rp. 16 Milyar akibat skandal tersebut.

Beliau adalah profesor senior yang sudah matang, mengingat usia beliau 69 tahun. Beliau juga telah menghadapi berbagai macam resiko, mengingat beliau adalah seorang ekonom senior. Apakah mungkin beliau bunuh diri hanya karena kasus Bank Century?

Let's flash back.

Salah satu guru besar terbaik Universitas Gadjah Mada sekaligus Rektor Universitas Atmajaya Yogyakarta, Prof. Dr. Dibyo Prabowo, M.Sc. meninggal dunia, pada hari Rabu, 19 Agustus 2009 pukul 15.45 WIB di RS Panti Rapih Yogyakarta. Almarhum wafat dalam usia 69 tahun yang disebabkan oleh serangan jantung. Beliau sudah sempat dirawat selama 10 hari di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta karena sesak napas.
- Dari berbagai sumber

Beliau sudah meninggal sejak pertengahan Agustus tahun lalu, namun baru hari ini saya dan teman-teman saya sesama mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM mendengar gosip miring tersebut yang muncul dari ruang sidang rapat Pansus Bank Century. Padahal saya adalah mantan mahasiswa beliau yang sangat menyukai guyonan beliau di kelas, rumah tinggal sayapun berada di dekat rumah almarhum, dan yang paling tidak masuk akal, lingkungan saya adalah lingkungan UGM, tetapi kenapa baru sekarang saya mendengar berita beliau bunuh diri? Yang saya dan teman-teman tahu dan percaya adalah beliau meninggal karena sudah lama sakit.

Adanya berita ini, ada tiga hal yang sangat mengecewakan saya. Pertama, Bapak Dibyo tidak pantas diberitakan seburuk itu dengan seenaknya. Kalaupun beliau memang dicurigai bunuh diri, hal ini masih belum pasti, sehingga tidak sepatutnya Z. Siput L. menceritakan berita itu kepada publik, seakan-akan berita itu sudah pasti. Apalagi menceritakannya pada rapat negara yang penting dan terbuka untuk publik. Namun jika ternyata Siput tidak mengatakan begitu, maka apakah media informasilah yang terlalu melebih-lebihkan berita?

Kedua, beliau adalah seorang suami, bapak, kakek, saudara, sahabat, rekan kerja, dan dosen, bagi banyak orang termasuk saya. Berita ini sungguh menyakiti hati kami, para orang terdekat beliau. Meninggalnya seseorang yang kami sayangi menjadi berita yang menjijikan: beliau bunuh diri. Apakah itu pantas mengingat berita itu belum valid?

Ketiga, berita bunuh diri ini fitnah atau salah informasi, keduanya keterlaluan. Entah darimana Z. Siput L. mendapatkan informasi ini. Entah kenapa pula Koordinator Perwakilan Nasabah Bank Century itu dengan yakin menceritakan berita ini dalam rapat penting yang ditonton publik dengan bebas itu. Yang jelas, lagi-lagi Anggota Pansus Bank Century telah mendatangkan saksi yang sumber informasinya ngawur. Jika anggota Pansus Bank Century sering mendapat lalu memakai informasi yang salah, bagaimana kita harus mempercayai hasilnya?

Semoga tulisan ini membuat Bapak Dibyo Prabowo lega di atas sana.