Uncategorized

Mencintai Plastik



Seseorang di masa kecil saya pernah memberi tahu, "plastik dapat membunuh sebuah pohon karena menghalangi pohon mencari air untuk hidupnya." Membayangkannya saya sedih. Sejak saat itu, plastik selalu ada dalam pikiran saya.
Saat saya SD, setiap pulang sekolah saya dijemput oleh becak langganan saya. Rumah saya lumayan jauh untuk ditempuh dengan becak, sehingga ada waktu sekitar 1/2 jam untuk saya duduk bengong memikirkan banyak hal, termasuk plastik. Suatu hari setelah saya bermain sepak bola, beli es teh, saya dijemput oleh Pak Temon, Pak becak langganan saya tercinta. Di dalam perjalanan pulang, sambil menyeruput es teh, tiba-tiba muncul pertanyaan di dalam pikiran saya, kalo plastik ini saya buang sembarangan ke jalan, kira-kira plastik ini berakhir dimana? Tentu saya ingat: plastik dapat membunuh sebuah pohon karena menghalangi pohon mencari air untuk hidupnya. Hanya karena saya keenakan minum es, lalu malas membuang sampah pada tempatnya, saya harus mengorbankan pohon mencari air? Saat es teh saya habis, saya urungkan niat saya untuk membuang plastik sembarangan di jalanan dan memilih untuk menyimpannya di tas sekolah. Sampai di rumah, saya buang ke tempat sampah. Paling tidak, hati saya lega, tak ada pohon yang saya halangi kelangsungan hidupnya. Setelah kejadian itu, sampai saya SMA, tas sekolah saya penuh sampah plastik.
Namun apakah membuang plastik di tempat sampah adalah jalan terbaik menjaga kehidupan pohon? Baru sekarang saya sadar, membuang plastik di tempat sampah bukan jalan yang terbaik untuk pohon apalagi alam kita. Lagi-lagi muncul pertanyaan di kepala saya, setelah dari tempat sampah di rumah kita, lalu diangkut tukang sampah, kira-kira sampah plastik kita berakhir dimana? Bisa saja ke tempat penampungan sampah. Entah dimana itu. Apakah di tempat penampungan sampah itu ada pohon? Bagaimana kelangsungan hidup pohon disana jika banyak sampah plastik? Apakah ada yang peduli untuk tidak membuat kelangsungan hidup pohon disana terancam? Lalu apakah benar tukang sampah membuangnya ke tempat penampungan sampah? Atau malah ke hutan bahkan sungai dan laut?
Ternyata, sebagian sampah plastik kita berakhir disini…

Hah? Apa itu? Itu 2 ekor paus yang lucu. Lihat deh senyumnya. :)
Sampah plastik kita berakhir disitu? Iya, berakhir disitu, di paus itu.
Kok bisa? Iya bisa, karena ketidakpedulian kita.
Beberapa waktu lalu saya mendapat berita menyesakkan: seekor paus ditemukan kelaparan hingga sekarat karena pencernaannya terhalangi oleh sampah plastik. Tahun 2008, dua paus sperma yang terdampar di pesisir California, AS, memiliki 205 kilogram jaring ikan dan serpihan sampah plastik dalam tubuhnya. Seekor di antaranya memiliki perut yang rusak. Seekor lainnya, dalam kondisi kelaparan, memiliki banyak sampah plastik yang menghalangi saluran pencernaannya. Tujuh paus sperma yang terdampar di selatan Italia pada tahun 2009 juga didapati telah menelan kail, tali, dan obyek-obyek plastik lainnya. Seekor paus lain, yang ditemukan tewas di perairan Perancis pada 2002, bahkan telah menelan hampir satu ton sampah, termasuk kantong plastik dari dua supermarket terkenal di Inggris. Fakta ini diungkapkan dalam sebuah forum kelautan internasional yang berlangsung pada 11 hingga 14 Juli 2011 di Jersey, Inggris.
Itu adalah 1 fakta menyesakkan akibat sampah plastik bekas kita, manusia. Tidak tahu bagaimana dengan jutaan fakta lainnya. Masalah utama adalah plastik sekali pakai. Baru dipakai beberapa menit untuk membungkus makanan kita, lalu kita buang. Tentu setiap harinya banyak sekali sampah sekali pakai yang dihasilkan manusia kan? Bukan berarti sampah-sampah itu akibat dari manusia yang tidak membuang sampah pada tempatnya. Tapi kemungkinan besar sampah plastik kita pada akhirnya dibuang ke tempat-tempat yang tidak semestinya oleh para pekerja sampah. Jadi membuang sampah pada tempatnya tidak selalu menjadi jalan keluar terbaik untuk menjaga alam kita ini. Bahkan masalah ini tidak mampu ditanggulangi oleh negara maju seperti Amerika dan Inggris sekalipun.
Lalu bagaimana? Dilema. Manusia selalu berusaha menciptakan benda yang praktis, efisien, dan ekonomis. Ketiga hal tersebut adalah sifat dari plastik. Namun plastik mengancam alam dan generasi yang akan datang. Disatu sisi kita membutuhkannya, di sisi yang lain kita dirugikan olehnya. Lalu bagaimana?
Cintailah plastik. Anggap bahwa plastik adalah barang langka yang sangat mahal sehingga memakainya seperlunya saja, bukan untuk hal-hal sepele dalam daily needs kita. Apakah bisa? Bisa, mudah, tapi sulit. Bisa dan mudah karena banyak benda lain yang dapat menggantikan kantong plastik kresek dan styrofoam, misalnya tas berbahan kain untuk membawa belanjaan dan wadah plastik yang dapat dipakai berulang kali untuk membungkus makanan yang kita beli di warung makan.

Ide ini menjadi sulit karena manusia malas untuk peduli dengan hal yang dampaknya tidak langsung terasa. Alam rusak, paus kelaparan, banjir, adalah dampak-dampak dari plastik yang tidak secara langsung kita rasakan dan bahkan tidak selalu terjadi di depan kita. Untuk apa repot mengganti plastik dari supermarket yang gratis dan praktis dengan membawa tas kain dari rumah? Untuk apa repot mengganti styrofoam dari warung makan dengan wadah plastik dari rumah? Semua hal ini repot dan kadang tidak terasa manfaatnya. Saya pun belum tentu bisa melakukannya. Lagi-lagi, lalu bagaimana?
Jika kita mencintainya, kita akan menghargainya. Maka hargai plastik dengan mahal. Ada suatu hypermarket di Jogja yang mengharuskan pelanggannya membeli per kantong plastik jika mereka ingin membungkus belanjaannya dengan kantong plastik tersebut. Jika kita tidak ingin mengeluarkan uang, maka kita harus membawa belanjaan itu dengan tangan atau dengan membawa tas sendiri dari rumah. Brillian ya? Saya jadi memiliki ide, bagaimana jika semua benda yang memakai plastik dihargai dengan mahal dengan diberi pajak? Beli Coca-Cola dari McDonald misalnya, jika kita ingin memakai gelas plastik dari sana, maka jika harus membayar lebih. Namun jika tidak mau membayar lebih, maka kita harus membawa gelas sendiri dari rumah. Bagaimana jika semua penjualan yang memakai plastik sekali pakai memakai ide ini? Maka sebagian besar manusia akan terpaksa mengganti plastik sekali pakai dengan plastik yang dapat dipakai berulang kali. Lalu kemana pendapatan pajak dari plastik itu? Untuk pembiayaan kerusakan alam akibat sampah plastik. Apa hasilnya? Sampah plastik berkurang, alam terlindungi. Asyik deh. Kita bersama-sama (walau terpaksa) bertanggung jawab atas apa yang sudah kita nikmati. Kadang manusia memang harus dipersulit dan dipaksa agar tidak menggampangkan masalah. :D

Indonesia Menghargai yang Produktif?

Dari kecil kata "produktif" itu membuat saya stres. "Kamu harus produktif!" Seakan-akan saya harus berkerja keras menciptakan suatu benda atau karya yang besar dan megah. Ini pikiran bodoh seorang gadis SD asal Jogjakarta.

Suatu hari ibu saya nyinyir saat ada orang yang keukeuh menawar buah di pasar. "Tuh liat ibu itu, harga cuma segitu aja masih ditawar. Dandanan kaya, tapi keluar uang dikit untuk menambah untung penjual buah aja pelit." Deg. Kata-kata ibu saya itu langsung masuk ke otak saya. Loading.

Lalu suatu hari setelah itu, saya nonton tv, sinetronnya Marshanda yang dulu masih SD itu lho. Lupa deh judulnya. Disitu Marshanda dengan lemah lembut memberi makanan kepada pengemis. Digambarkan bahwa memberi pengemis itu tindakan yang santun dan baik hati. Malaikat banget deh. Tapi saat itu saya heran dan merasa ada yang tidak benar dalam adegan itu. Otak saya loading lagi.

Beruntung saya masih hidup hingga sekarang. Sehingga misteri loading di otak kecil saya dulu akhirnya terpecahkan. Saat kuliah inilah saya mampu mengaitkan semua hal yang saya tangkap saat kecil: dukunglah mereka yang berusaha, bukan mengasihani mereka yang pemalas.

Saya sering bertemu dengan orang-orang yang mengasihani pengemis dan pengamen di jalanan, tetapi menawar sadis pedagang kecil dan tukang becak. Kenapa mereka yang berusaha justru ditekan, tetapi mereka yang pemalas justru dikasihani dan diberi?

Mungkin karena kita tidak sadar arti produktif itu. Sama seperti pikiran saya jaman SD dulu, menganggap produktif itu menghasilkan sesuatu yang besar saja. Jadi yang kecil-kecil tidak dianggap. Hasilnya? Pembantu, sopir, pedagang kaki lima, tukang cuci, tukang sampah, para pekerja keras kecil-kecilan lainnya tidak dihargai. Budaya yang ironis. :(

Lalu saya menemukan salah satu hadits Rasulullah SAW,

Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak. (HR.Mutafaq’alaih)

Betapa malunya saya terhadap diri sendiri setelah melihat mereka. Semangat, usaha, kerja keras, dan hasil yang mereka capai memberi dampak yang positif terhadap negri ini. Mereka terlalu berharga untuk kita lewatkan.

Melihat mereka kita belajar bahwa produktif itu menghasilkan apapun yang berguna. Besar atau kecil dampaknya kepada dunia itu tidak penting, karena sekecil apapun usaha mereka, mereka telah menghasilkan sesuatu  untuk dirinya sendiri, keluarga, dan orang lain. Seharusnya sosok mereka selalu kita puja dan kita tiru. Bukan justru ditekan atau bahkan tidak dianggap.

Tapi bangsa Indonesia belum sadar akan sosok-sosok hebat ini. Indonesia belum sadar bahwa mereka adalah inspirasi yang mampu menumbuhkan semangat produktif bangsa. Indonesia belum sadar dan kitalah yang harus menyadarkan.

Sebarkan pesan ini. Pikirkan ide untuk menyebarkannya dan kampanyekan ide Indonesia Produktif-mu disini. Agar bangsa ini selalu ingat:

dukunglah mereka yang berusaha, bukan mengasihani mereka yang pemalas. :)

Islam Mengajarkan Kita Menyayangi Binatang

Orang yang tidak menyayangi maka tidak disayangi (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala).” (HR. Al-Bukhari no. 6013)

Siang ini saya dibuat marah oleh berita di tv: ulat bulu sedang banyak menyerang berbagai kabupaten, lalu karena panik, masyarakat membunuh ulat bulu yang sedang menempel di pohon itu dengan cara dibakar. Ya Tuhan... :(

Sejak kecil saya dididik ibu saya untuk selalu menyayangi binatang dan tidak menyiksanya, apalagi membunuhnya. Jangankan membunuh tikus, membunuh kecoa hingga semut pun dilarang ibu. Kata ibu,

Jangan bunuh binatang sekecil apapun itu. Walaupun kecil, itu adalah nyawa. Kamu tidak bisa menciptakannya

Itulah ibu saya, sangat peduli dengan binatang. Sehingga kasus-kasus penyiksaan binatang selalu menjadi masalah bagi kami, termasuk pembakaran ulat bulu tadi. Lalu teman saya memberitahu, "kalau tidak salah, Islam melarang umatnya membunuh binatang dengan cara dibakar, Mit." Saya antusias mendapatkan sedikit pencerahan ini. Maka saya langsung googling, apakah benar Islam melarang membunuh binatang dengan cara dibakar? Dari hasil googling itu, saya justru menemuan fakta baru dari website yang saya temukan ini:

Islam mewajibkan kita untuk menyayangi semua binatang dan dengan keras melarang kita menyiksa binatang dengan cara apapun. :)

Bahkan dalam website tersebut, ternyata Islam mengajarkan umatnya untuk memperhatikan hak-hak binatang. Seperti memberikan makanan dan minuman, tidak memeras tenaga binatang, diwajibkan untuk menajamkan pisau yang akan dipakai untuk menyembelih, dilarang menjadikan binatang yang hidup sebagai sasaran dalam latihan memanah dan semisalnya.

Nabi Muhammad SAW pun pernah memarahi seseorang yang memeras tenaga unta peliharaannya. Nabi SAW berkata,

Tidakkah kamu takut kepada Allah SWT dalam (memperlakukan) binatang ini yang Allah SWT menjadikanmu memilikinya? Sesungguhnya unta ini mengeluh kepadaku bahwa kamu meletihkannya dengan banyak bekerja.

Saya senang sekali mendapatkan informasi ini. Bahwa sesungguhnya Islam adalah agama yang penuh cinta dan kasih sayang, kepada manusia maupun binatang. :)

Pak Zamzam, Guru Inspirasi

Pagi ini saya dibuat terharu hingga menitikan air mata karena membaca cerita dari Artasya tentang Pak Zamzam, guru agama SD Al-Azhar Pusat. Beliau bukan guru saya, namun saya senang membaca cerita tentangnya yang diceritakan oleh Artasya di Twitter. Inilah sosok guru yang luar biasa, yang harus dicontoh para guru, terutama guru Indonesia. Sayang jika cerita indah ini hanya termakan oleh tweet-tweet baru, hingga hilang. Maka saya rangkum dan bagikan disini. Semoga kita semua terinspirasi. :)

@myARTasya:

Semalam saya mimpi guru SD saya dulu. Namanya Pak Zamzam. Beliau amat sangat luar biasa. Bangun-bangun saya merindukannya... Jadi pengen cerita tentang Pak Zamzam. Boleh ya tweeps, karena dia juga salah satu orang yang sangat menginspirasi saya...

Pak Zamzam itu resmi menjadi guru di Al-Azhar Pusat waktu saya kelas 3 SD. Tepatnya di kelas 3A dan wali kelas saya Ibu Atiah. Pak Zamzam masuk sebagai guru agama. Dahinya ada tanda berwarna keunguan. Katanya guru-guru dulu sih karena sering sholat dan bersujud. Kulitnya sawo matang, tinggi sekitar 168 cm, tidak gemuk, selalu berpeci, dan senyum teramah di dunia adalah ciri khas Pak Zamzam. Setiap pagi Pak Zamzam selalu berdiri di depan gerbang untuk menyapa murid, baik yang dia ajar maupun yang tidak. Pak Zamzam stay di depan gerbang dari pukul 6 dan baru akan masuk setelah bel berbunyi pukul 7. Anak-anak biasanya akan berebut salaman dengan beliau.

Suatu hari di Al-Azhar Pusat diadakan lomba bercerita tentang para nabi. Ga tau kenapa pengen aja gitu ikutan. Waktu itu saya kelas 5, 5D tepatnya :D Setelah milih-milih nabi mana yang mau jadi bahan cerita, pilihan saya yang pertama adalah Nabi Ibrahim.

Waktu itu lombanya pas pulang sekolah. Peserta yang mendaftar sekitar 15 orang, dibagi menjadi 3 hari berturut-turut. Lomba diadakan di aula sekolah pada saat jam pulang. Saya dapet giliran itu pas yang hari kedua dan peserta terakhir di hari itu pulaakk! Siape juga yang nonton? Udah pada pulang kaliii (-______- ) Pas peserta sebelumnya mulai, dari belakang panggung saya liat penonton mulai pada pulang. Udah feeling sih, ini mah pas giliran gue, aula kosong. Bener lho, saya naik panggung itu yang nonton cuma: ......... rumput yang bergoyang, juri, dan peserta sebelum saya. NAH! Salah 1 jurinya itu Pak Zamzam!

Pas ending, mungkin intonasi suara saya seakan bersambung. Jadi juri masih pada bengong. Saya juga X) Hari itu rasanya kaki tak bertulang, keringat saya bisa jadi sumur. Dalam hati pengen tereak, "udah selesai kalii!" Tapi juri masih diem nungguin saya lanjut. Kayanya suasana diem-dieman itu berlangsung 40 detik. Lama lho di situasi itu. Sampe salah satu juri, namanya Pak Satiri, nanya, "kamu lupa ceritanya?" Mau pengsan rasanya. Akhirnya saya jawab, "enggak, Pak. Udah selesai kan." Lalu Pak Zamzam berdiri dan tepuk tangan. Dia satu-satunya juri yang tepuk tangan. Pas liat asemnya ekspresi 2 juri lain, saya OPTIMIS: ga masuk final (-_____-) Tapi seenggaknya Pak Zamzam ga bikin saya drop-drop amatlah.

5 hari kemudian, Hari Senin, bertepatan dengan upacara bendera, diumumkan 3 besar dan SAYA MASUK LHO!! Wohooo! Bangga, norak, dan HERAN. Tapi masalahnya belum selesai. Ketiga finalis ini akan diadu lagi Hari Jum'at, saat khutbah sholat Jum'at di depan seluruh murid (baik laki-laki dan perempuan). Murid-murid dari kelas 4-6 bakalan denger kita bercerita. Makin banjirlah keringat saya waktu ngebayangin. Saya lirik Pak Zamzam, dia tersenyum. Akhirnya pulang saya langsung obrak-abrik rak buku, buat nyari cerita nabi siapa yang akan saya baca buat Hari Jum'at nanti. Semua satu-satu saya baca. Pilihan saya jatuh pada cerita Nabi MUSA :D Saya hafalin detail-detail cerita sampe taun-taunnya. DAN  ga hafal-hafal (-____-) Saya stress... Akhirnya saya datengin Pak Zamzam dan bilang, "Pak, saya mau mundur aja daripada malu-maluin nanti Hari Jum'at."

"Memang masalahmu apa?" tanyanya sambil tersenyum.

"Aku ga bisa apal-apal, Pak," sambil sodorin kertas catetan.

"Nak, cerita itu bukan untuk dihafal, tapi untuk dinikmati. Kamu senang membaca?"

"Sangat."

"Kalau kamu sudah dapat menikmati sebuah cerita, otomatis kamu akan mengingatnya dengan indah. Keindahan itulah yang nantinya akan kamu bagikan..."

Dulu beliau ngomong gitu, di kepala saya: OK, saya akan lebih santai membaca dan menikmati. Tapi kalo saya inget sekarang: GILA, KATA-KATANYA KEREN BGT! Akhirnya makin lama saya jatuh cinta sama cerita Nabi Musa.

Hari Jum'at tiba. JENG-JENG. Ngeliatin jam ke jam 10:45 tuh rasanya lamaaa banget. Setiap jarum jam nambah rasanya perut mules seada-adanya. Begitu 10 : 45 semua keluar kelas. Istirahat 15 menit, baru wudhu. 15 menit istirahat saya ke tempat Pak Zamzam. Kata-kata pertama saya pas liat muka beliau di ruang guru, "Pak, aku deg-degan dan aku ingin pipis terus." Pak Zamzam tersenyum dan bilang, "kamu punya waktu 15 menit buat ke kamar kecil dan deg-degan sepuasnya. Setelah itu lakukan sebaliknya." Nurut lah sayaaa. Saya deg-degan 15 menit boookkk! Ke kamar mandi mulu sampe akhirnya bel tanda wudhu dimulai. Abis wudhu, saya duduk di shaft murid perempuan seperti biasa. Nunggu dipanggil sama MC. Tegang gilaaaa... Pas dipanggil sebagai finalis terakhir, jantung kaya ketinggalan. Dan justru malah bagus, deg-degannya jadi ga berasa lagi. Saya sangat menikmatinya. Bercerita atau mendongeng sebuah cerita adalah berbagi, dan saya rasa belum ada yg lebih Indah dari itu. :)

Akhirnya Hari Senin, sekalian upacara bendera, pengumuman deh. Dan dan dan dan dan..... *gagap* Saya juara 1 lhooooooo!!!!!! Wohoooo! *joget* Waktu itu rasanya ga percaya, mau nangis dsb dsb. Dan yang kasih pialanya Pak Zamzam :') Saya megang piala kaya mau nangisss.

Saat istirahat, saya ke kantor guru nemuin Pak Zamzam. Saya kasih beliau gambar dan juga puisi judulnya "Guruku" Isinya saya lupa, ada di beliau. Dan jawaban Pak Zamzam adalah...

"kamu buat ini pas jam pelajaran apa Artasya?" KWAK KWAANGG. Ketauan saya ga nyimak di kelas, malah asik gambar @_@ Tapi abis itu dia tersenyum dan bilang,

terima kasih Artasya. Saya senang sekali. Semoga nanti, kau akan punya ceritamu sendiri.

Jadi saya yakin, saya begini juga adalah bagian dari doa beliau.

Saat saya ingin memberikan buku pertama saya, beliau sudah tidak ada. Waktu kuliah, saya dengar berita Pak Zamzam dipanggil Yang Maha Esa. Justru saat saya tau, kata teman saya beliau meninggal udah lama. :(

Senyum seorang Pak Zamzam mungkin sudah tidak ada, tapi dia telah mengukir jutaan senyum. Di hati banyak orang.

PS: Terima kasih Artasya, karena telah berbagi cerita indahmu dan mengijinkan saya menulisnya disini. Pak Zamzam pasti sedang tersenyum disana. :)

Membagikan Kaos Gratis #MengenangMunir Jogja

Horeee 20 Maret 2011 kemarin akhirnya saya membagikan kaos gratis #MengenangMunir ke tukang becak, tukang sampah, pedagang kecil, hingga mbak penjual sate. Kaos ini diproduksi dengan dana yang dikumpulkan dari hasil lelang kaos pada acara Mengenang Munir, 8 Desermber 2010 lalu.
Tentu saya tidak sendirian saat membagikan kaos. Dengan sebuah mobil box, saya ditemani sang pacar, Savior Band, dan juga Mbak Achi dari WOMAGZ. Beruntung saya ditemani mereka, karena ternyata pembagian kaos gratis hampir sesulit membagikan sembako. :(
Awalnya kita membagikan ke tukang becak depan Mirota Kampus. Suasana tenang dan asyik.

Lalu ke tukang becak di Terminal Terban, ke tukang becak, tukang sampah, tukang koran, dan pemulung di Jalan Sudirman.




Namun saat di Jalan Mangkubumi, kita kewalahan membagikan. Ada sekitar 20 orang menyerbu mobil box kami dan berebut meminta kaos. Padahal banyak dari mereka bukan tukang becak bahkan pengendara motor yang lewat. Nggak malu ya?  Maka dari itu saya tidak memiliki foto saat di Mangkubumi dan Malioboro. Namun setelah itu kami ke depan Jogjatronik dan memberikan kaos kepada para tukang becak dan andong yang lewat.

Sungguh menyenangkan, karena bisa menjalankan kewajiban saya sekaligus membahagiakan orang lain yang mendapatkan kaos. Tapi sedikit menyedihkan saat ada juga yang tidak mendapatkan kaos. Rasanya ingin membagikan ke semua orang. :(
Kaos masih ada yang harus dibagikan ke Jakarta, Bali, dan kota kelahiran Munir, Malang. Sampai jumpa di pembagian kaos gratis berikutnya! :)
PS: Kaos-kaos ini bukan milik saya, melainkan milik para peserta lelang kaos Munir 8 Desember 2010 lalu. Saya janjikan kepada mereka untuk membagikan kaos ini secara gratis ke rakyat kecil yang berusaha. Bukan ke teman saya atau siapapun yang tidak masuk dalam kategori itu. Mohon dimaklumi jika kota lain tidak dibagikan kaos gratis, ini karena keterbatasan kaos. Terima kasih. :)

Pelecehan Seksual & Tips Menghadapinya

Banyak yang mengira pelecehan seksual itu diperkosa atau dipegang bagian pribadinya. Seperti pembantu saya barusan, dia sedang menyapu di belakang saya, tiba-tiba heboh bertanya, "pelecehan seksual kenapa Mbak Mit? Ada yang diperkosa???!!!" (-____-)
Padahal tidak. Pelecehan seksual tidak harus diperkosa atau disentuh bagian pribadinya. Pelecehan seksual bisa berupa joke, rayuan, dipegang pundaknya, dicolek, atau hanya sebuah tatapan. Jika Anda merasa  risih bahkan jijik karenanya, itu semua sudah bisa disebut pelecehan seksual dan kita berhak untuk tegas atau bahkan marah untuk menyatakan keberatan atau menolaknya. Jangan malu atau tidak percaya diri saat menolaknya. Semakin kita terlihat malu atau lemah, semakin gampang dilecehkan.
Ada beberapa tips untuk menghadapinya. Jangan terlalu lebay tapi jangan terlalu lemah. Lebay itu baru disuit-suitin dikit udah marah-marah. Padahal laki-laki iseng itu banyak. Kalo semua yang iseng, padahal biasa aja, kita selalu marah, maka kita capek sendiri dan dianggap lebay. Jika ada laki-laki ngajak ngobrol, walau kita males, tanggapilah dengan ramah. Kadang laki-laki menjadi sungkan karena kita ramah lho. Saya pernah mengalaminya dan dia justru menjadi sungkan dan perlakukan saya dengan sopan. Kalo kita malah marah, mereka justru senang dan semakin menggoda.
Namun juga jangan terlalu minder atau lemah saat menghadapi pelecehan seksual. Dikit-dikit mikir, "ini aku lebay ga ya kalo marah" padahal kamu sudah sangat risih. Jangan! Jika sudah terterlaluan, marahlah! Jika mengalami pelecehan yang ringan, misal dipegang pundaknya atau dicolek dagunya dan Anda mengenal orangnya, maka kirimi dia pesan dari sms atau direct message di Twitter, "saya keberatan dengan perlakuanmu tadi. Jangan diulangi lagi." Jika pelecehan terjadi secara tiba-tiba, misal payudara diremas lalu orang itu langsung kabur, langsung hapalkan ciri-cirinya dan plat motornya. Jangan lupa teriaki dia "maling" agar orang di sekitarmu lebih sigap dan ikut mengejar dia.
Jika pelecehannya sudah termasuk berat misal dirayu dengan kata-kata yang menjijikan atau digandeng, maka tolak dengan galak dan tegas. Muka melotot, badan tegap, dan teriak sekencang-kencangnya. Jika sudah sangat jelas dia akan memperkosa, tetap tenang, hapalkan titik sensitif laki-laki pada gambar di bawah ini. Berusahalah tendang atau pukul sekuat mungkin di titik-titik ini.

Sebenarnya tips tidak hanya untuk saat kejadian saja tapi kita harus waspada sebelum ada kejadian. Misal jangan pulang malam sendirian, jangan melewati jalan sepi sendirian, jangan berbusana dan bertingkah terlalu menyolok di tempat yang rawan, dan  lain-lain.
Namun menghindari itu juga sulit, seperti menghindari pulang malam sendirian. Banyak yang bilang, karena tuntutan, misal pekerjaan, mereka harus pulang malam sendirian atau melewati jalan sepi sendirian. Tapi kita kan kita punya akal, kita harus menyiasatinya. Bukannya menyerah sampai disitu saja, lalu tetap pulang malam dan melewati jalan sepi sendirian dan berdoa semoga selamat. Emangnya kita Play Station yang punya banyak nyawa? Nanti kalo terjadi kejadian buruk baru menyesal dan ingin mengulangi saat sebelum terjadi kan?
Maka siasatilah. Misal saat harus pulang malam sendirian, siasati mulai dari  meminta bos memberi keringanan agar kita tidak pulang malam. Jika ditolak, cari teman laki-laki yang mau mengantarkan pulang. Jika tidak ada, minimal kita telepon ortu/teman/siapapun yang kita percaya saat kita dalam perjalanan pulang. Jika kita ada apa-apa, maka orang yang sedang kita telpon tau dan bisa langsung bertindak. Melewati jalanan sepi sendirian juga bisa disisati dengan menelpon orang yang kita kenal selama perjalanan. Atau carilah jalan alternatif yang ramai. Yang penting ramai dan aman, walau sampai rumah lebih lama, lebih jauh, atau lebih mahal. Lagipula kita ini priceless kan? ;)
Masih banyak lagi siasat sesuai dengan kapasitas dan keadaan kita. Kita punya akal, jangan hanya andalkan nasib dan doa dong. :)

Gerakan Agar Sinetron Indonesia Harus Mendidik

putriyangditukar

Apakah sinetron harus mendidik? Saya tak pernah merasa terdidik saat menonton Opera Van Java atau Ceriwis. Yang saya rasakan hanya terhibur, bisa tertawa, dan meniru cara mereka melucu. Atau tidak sekedar meniru, tapi improve joke-nya.

Oh mungkin inilah yang disebut mendidik. Apa yang kita saksikan dapat menjadi potensi yang positif di kemudian hari. Menonton Sule yang sangat lihai bermain kata lucu di Opera Van Java, membuat kita kreatif karena kita diberi pertunjukkan yang kreatif. Otak kita harus berfikir saat menerima maksud guyonannya lalu di kehidupan kita bisa menirunya untuk menghibur orang lain. Para pelawak lainnya pun merasa harus lebih lucu dari Sule dan mereka berusaha berlatih melucu agar mengalahkannya. Secara tidak langsung Sule telah mendidik kita. Mendidik para penonton maupun saingannya. Begitulah entertainment, memberi contoh yang baik yang bisa kita tiru untuk di kehidupan masyarakat dan bisa menjadi pemicu kualitas entertainer lainnya.

Film Amerikalah yang selama ini paling banyak menghibur sekaligus mendidik saya. Menunjukkan saya betapa sulitnya membuat film, betapa sulitnya membuat cerita, betapa sulitnya berakting, betapa banyaknya sejarah dunia, hingga betapa manusia memiliki banyak karakter yang akan kita temui seumur hidup. Film Amerika secara tidak langsung mendidik para penonton dan para pembuat film lainnya.

Lalu bagaimana dengan sinetron Indonesia? Seperti yang diceritakan kakak saya, Mas Herman, dalam sinetron Putri Yang Ditukar, adegan-adegannya sungguh tidak masuk akal dan tidak mendidik. Adegan menyelamatkan diri dari api terlalu mengada-ada. Apakah bisa ditiru di kehidupan nyata? Tidak hanya itu, apakah produksi sinetron ini telah memanfaatkan kreatifitas anak bangsa? Tidak. Apakah ada perkembangan yang signifikan dalam memperbaiki kualitas sinetron? Tidak. Tayangan sinetron Indonesia tidak berkembang. Karena sudah dianggap memuaskan konsumen Indonesia, lalu stagnan disitu saja. Tidak diperbarui, tidak menambah kualitas, tidak membuat para produsen sinetron berkompetisi untuk membuat yang berkualitas dan menakjubkan. Otak penonton dan pembuat sinetron menjadi seperti sinetronnya, stagnan tak berkualitas.

Maka ya, sinetron kita tidak mendidik penonton maupun pembuatnya. Tidak memberi contoh yang bermutu dalam kehidupan masyarakat dan tidak memberi efek kompetisi yang berkualitas di kalangan pembuat sinetron.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Ada protes yang dilakukan oleh seseorang yang misterius. Protes ini menarik dan kritis. Kita diajak untuk mengumpulkan koin untuk menyumbang para pemain sinetron Indonesia agar tidak membintangi acara tidak bermutu dan berkualitas seperti Putri Yang Ditukar, Cinta Fitri, dan sebagainya. Mari bergabung di Gerakan Koin untuk Artis Putri Yang Ditukar. Hingga saat ini sudah ada 1,339 member yang turut mendukung. Semoga kemuakkan kita bisa membuat mereka berfikir dua kali dalam memproduksi tayangan tidak mendidik.

Baca juga:

  1. Absurditas di Putri yang Ditukar – Nonadita
  2. Gerakan Koin untuk Sinetron Putri yang Ditukar – Herman Saksono
  3. Masih Mau Nonton Sinetron? – Leksa
  4. Belajar dari Nodame – Suprie
  5. Kualitas Buruk yang Terus Dipertahankan – Aankun
  6. Homo Sinetronosus – Pak Guru
  7. #41: Sinetron – Masova
  8. Ikutan Membahas Sinetron – Adhi Pras
  9. Sinetron Indonesia Miskin Cerita – Fudu
  10. Menalar (Polemik) Sinetron – Gentole
  11. Balada Argumentasi Sinetron yang Tertukar-tukar – Amed
  12. Putri yang Ditukar – Mamski
  13. Pilih Sinetron atau si Bolang? – Memethmeong
  14. Jangan Tukar Isu Putri Yang Ditukar - Nonadita
  15. Putri yang Ditukar – Wikipedia (coba baca deh plot awalnya, harusnya Ikhsan meninggal)
  16. Yang Putri Yang Ditukar – Choro
  17. Barang Yang Sudah Terlanjur Dibeli Tidak Dapat Ditukarkan – Joesatch
  18. Masygul – Aris

Sumbang Panti Asuhan Gotong Royong Yuk?

A'yun, salah satu anak yang diasuh Panti Asuhan Balita Yayasan Gotong Royong Jogja. Cantik ya? Namun sayangnya, dikabarkan panti asuhan ini masih miskin. Tempat tidur untuk balita seusianya hanya matras, sedikit selimut, dan bantal. Pasti banyak perlengkapan lain yang sangat mereka butuhkan tapi mereka tidak mampu membelinya. Mereka butuh bantuan. :(

Ingin membantu? Ayooo! Anda bisa mempercayakan sumbangan anda kepada kami, lalu kami yang akan membelanjakan keperluan panti dan menyalurkannya langsung ke mereka. Anda sumbang, kami belikan dan salurkan. Bantuan dapat melalui melalui: BNI 0168487901 Muthia Pramudhita, BCA 0372772750 Ajeng Ayu, Mandiri 1370005709783 Ajeng Ayu, Paypal theclaradevi@gmail.com

Sumbangan paling lambat dikirimkan pada tanggal 17 Septermber pukul 10 pagi. Lalu pada tanggal 17 September 2010 nanti akan ada livetweet di acc Twitter saya (@mistymimit), mengenai kegiatan kami membelanjakan sumbangan dari anda, begitu pula livetweet pada tanggal 18 nanti, kegiatan kami menyalurkan sumbangan kepada panti tersebut.

Jika A'yun sudah besar nanti, pasti dia akan mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan anda, berapapun itu. :)

With love,

Mimit, Muthia, Ajeng, Adel, & Claradevi.

PS: info lebih lanjut, hubungi kami di telp 087839651665 & email: dianpmita@live.com

Cintaku Berulang Tahun!

Aku cinta Indonesia. Walaupun berpenduduk muslim terbesar di dunia, dia bukan negara Islam. Dia tidak egois.

Aku cinta Indonesia. Jutaan budayanya membuat kita harus membelikan oleh-oleh jika pergi ke daerah lain. Dia kreatif.

Aku cinta Indonesia. Makanannya #1 di dunia. Beragam dan lezat! Dia jago masak!

Aku cinta Indonesia. Selera humornya membuatku sakit perut gembira. Dia berselera humor tinggi!

Aku cinta Indonesia. Alamnya indah dan penuh manfaat. Dia kaya raya.

Aku lahir disini, di Indonesia. Kelebihannya adalah anugrahku, kekurangannya adalah kewajibanku. Selamat ulang tahun ke-65 Indonesiaku sayang!

Apa Itu Redenominasi Rupiah?

Wacana redenominasi rupiah ini sangat baik, namun disambut masyarakat dengan sinis. Banyak yang mengira redenominasi sama saja dengan sanering. Padahal jauh berbeda. Ini sebabnya masyarakat, khususnya pedagang, menolak keras redenominasi. Wajar karena masyarakat tidak tahu apa itu redenominasi.

Redenominasi tentu penggabungan kata "re" dan "denominasi," dimana "re" artinya "pengulangan" sementara "denominasi" artinya "pecahan mata uang yang diterbitkan." Saat ini di Indonesia, denominasi rupiah antara lain Rp. 100.000,- Rp. 50.000,- Rp. 20.000,- dan seterusnya, namun tidak ada denominasi rupiah Rp. 30.000,- Maka arti redenominasi rupiah adalah pengulangan penerbitan pecahan rupiah. Misal dari Rp. 100.000,- menjadi Rp. 100,- dengan catatan nilai tukar uang itu tetap sama. Misal, handphone seharga 3 juta menjadi 3 ribu, tetapi nilai 3 ribu itu tetap setara dengan 3 juta. Ini juga membuat gaji kita berubah dari 5 juta menjadi 5 ribu, dengan nilai yang sama pula. Biasanya redenominasi terjadi jika nominal pecahan suatu mata uang  sudah terlalu tinggi. Saat ini Indonesia adalah negara yang memiliki denominasi tertinggi ke-3 di dunia, yaitu Rp. 100.000,-

Pelaksanaan redenominasi jelas hanya bisa dilakukan di negara dengan ekonomi stabil. Jika ekonominya labil, tentu perubahan nominal pecahan mata uangnya akan sulit. Misal, saat akan meredenominasi 100 ribu rupiah menjadi 100 rupiah, ternyata nilai mata uang itu merosot, sehingga nilai 100 ribu tidak lagi sama dengan semula. Tentu akan repot bukan? Selain itu, redenominasi rupiah membutuhkan waktu yang lama. Dahulu berita kemerdekaan Indonesia 1945 saja tidak langsung tersebar dari Sabang sampai Merauke. Bahkan banyak wilayah Indonesia yang baru tahu Indonesia merdeka bertahun-tahun setelah merdeka. Inilah mengapa redenominasi juga perlu waktu sosialisasi yang cukup lama kira-kira 10 tahun, agar masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke mengetahui dan terbiasa dengan pecahan rupiah baru.

Banyak yang bertanya, apa manfaat redenominasi? Salah satu manfaat yang mudah dipahami dari redenominasi adalah untuk mendorong efisiensi dalam pencatatan pembukuan maupun dalam transaksi sehari-hari. Pernahkah anda melakukan perhitungan keuangan dengan kalkulator namun anda sederhanakan (tanpa menyertakan nol di belakangnya) agar lebih efisien? Misal, anda ingin menghitung: 3.000.000 + 4.500.000 + 17.000.000, saat anda akan menghitungnya di kalkulator, pasti anda menghilangkan nol-nol itu menjadi: 3 + 4.5 + 17 kan?

Maka dari penjelasan di atas, redenominasi ini berbeda dengan sanering. Berikut perbedaannya:

  1. Pelaksanaan redenominasi hanya dapat dilakukan di perekonomian stabil,  sementara sanering terjadi saat negara itu sedang mengalami hiperinflasi (perekonomian labil).
  2. Pada redenominasi ada sosialisasi minimal 10 tahun, sementara sanering terjadi tiba-tiba (tanpa sosialisasi).
  3. Redenominasi hanya menurunkan nominal pecahan mata uang, sehingga daya beli uang itu tetap sama. Sementara pada sanering, nominal dan nilai mata uang diturunkan tanpa menurunkan harga barang dan jasa, sehingga daya beli uang itu menurun. Misal, ita memiliki 3 juta, yang biasanya dapat untuk membeli handphone berkamera, setelah sanering, 3 juta tidak lagi dapat untuk membeli handphone berkamera.

Itulah definisi, manfaat, dan perbedaan redenominasi dengan sanering. Semoga bermanfaat dan masyarakat tidak lagi sinis menanggapinya. :)