Indonesia Menghargai yang Produktif?

Dari kecil kata "produktif" itu membuat saya stres. "Kamu harus produktif!" Seakan-akan saya harus berkerja keras menciptakan suatu benda atau karya yang besar dan megah. Ini pikiran bodoh seorang gadis SD asal Jogjakarta.

Suatu hari ibu saya nyinyir saat ada orang yang keukeuh menawar buah di pasar. "Tuh liat ibu itu, harga cuma segitu aja masih ditawar. Dandanan kaya, tapi keluar uang dikit untuk menambah untung penjual buah aja pelit." Deg. Kata-kata ibu saya itu langsung masuk ke otak saya. Loading.

Lalu suatu hari setelah itu, saya nonton tv, sinetronnya Marshanda yang dulu masih SD itu lho. Lupa deh judulnya. Disitu Marshanda dengan lemah lembut memberi makanan kepada pengemis. Digambarkan bahwa memberi pengemis itu tindakan yang santun dan baik hati. Malaikat banget deh. Tapi saat itu saya heran dan merasa ada yang tidak benar dalam adegan itu. Otak saya loading lagi.

Beruntung saya masih hidup hingga sekarang. Sehingga misteri loading di otak kecil saya dulu akhirnya terpecahkan. Saat kuliah inilah saya mampu mengaitkan semua hal yang saya tangkap saat kecil: dukunglah mereka yang berusaha, bukan mengasihani mereka yang pemalas.

Saya sering bertemu dengan orang-orang yang mengasihani pengemis dan pengamen di jalanan, tetapi menawar sadis pedagang kecil dan tukang becak. Kenapa mereka yang berusaha justru ditekan, tetapi mereka yang pemalas justru dikasihani dan diberi?

Mungkin karena kita tidak sadar arti produktif itu. Sama seperti pikiran saya jaman SD dulu, menganggap produktif itu menghasilkan sesuatu yang besar saja. Jadi yang kecil-kecil tidak dianggap. Hasilnya? Pembantu, sopir, pedagang kaki lima, tukang cuci, tukang sampah, para pekerja keras kecil-kecilan lainnya tidak dihargai. Budaya yang ironis. :(

Lalu saya menemukan salah satu hadits Rasulullah SAW,

Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak. (HR.Mutafaq’alaih)

Betapa malunya saya terhadap diri sendiri setelah melihat mereka. Semangat, usaha, kerja keras, dan hasil yang mereka capai memberi dampak yang positif terhadap negri ini. Mereka terlalu berharga untuk kita lewatkan.

Melihat mereka kita belajar bahwa produktif itu menghasilkan apapun yang berguna. Besar atau kecil dampaknya kepada dunia itu tidak penting, karena sekecil apapun usaha mereka, mereka telah menghasilkan sesuatu  untuk dirinya sendiri, keluarga, dan orang lain. Seharusnya sosok mereka selalu kita puja dan kita tiru. Bukan justru ditekan atau bahkan tidak dianggap.

Tapi bangsa Indonesia belum sadar akan sosok-sosok hebat ini. Indonesia belum sadar bahwa mereka adalah inspirasi yang mampu menumbuhkan semangat produktif bangsa. Indonesia belum sadar dan kitalah yang harus menyadarkan.

Sebarkan pesan ini. Pikirkan ide untuk menyebarkannya dan kampanyekan ide Indonesia Produktif-mu disini. Agar bangsa ini selalu ingat:

dukunglah mereka yang berusaha, bukan mengasihani mereka yang pemalas. :)

Satu Hati Bantu Pendidikan Indonesia

Internet adalah tempat berbagi. Tidak selalu sebagai tempat berbagi langsung antara mereka yang membantu dengan yang mereka membutuhkan, tetapi juga tempat berbagi antar mereka yang merencanakan bantuan.

Membantu tidak selalu harus dengan uang. Mulai sekarang carilah apa kelebihanmu? Jika kelebihanmu menciptakan ide gerakan, kembangkanlah ide itu, tulislah, lalu share lah di internet. Mereka yang tertarik, akan ikut mengembangkan idemu setelah membacanya. Jika yang kamu miliki adalah materi, maka carilah di internet, organisasi atau gerakan apa yang ingin membantu tetapi membutuhkan dana. Kamu yang memiliki tenaga dan waktu luang, carilah di internet, organisasi atau gerakan apa yang membutuhkan tenagamu. Kamu yang memiliki kemampuan menyebarkan berita atau informasi, maka sebarkanlah ide dan informasi sosial ini di internet, agar makin banyak orang yang tahu dan ingin membantu mengembangkan ide sosial itu. Dari ide, lalu disebarkan oleh para influencer, lalu dikembangkan dengan dana, dan digerakan oleh tenaga, bersama-sama kita menciptakan sebuah gerakan sosial untuk membantu yang lain. Itu semua lewat internet. Keren ya?

Alangkah senangnya saya saat teman saya memberi tahu bahwa ada gerakan ini, Gerakan Satu Hati. Gerakan sosial yang fokus pada pendidikan Indonesia. Persis seperti yang saya ceritakan sebelumnya, dalam Gerakan Satu Hati, kita tidak melulu harus membantu dengan menyumbangkan dana, tetapi kita bisa membantunya dengan cara yang lain. Walau dalam Satu Hati kita bisa menyumbangkan dana (karena gerakan ini juga menyediakan rekening khusus untuk menyumbang), tetapi jika kamu ingin menyumbang dengan cara lain, kamu bisa melakukan beberapa kegiatan, seperti misalnya bersama teman-teman segeng kita mengumpulkan buku-buku lalu antarkan ke Drop Zoner atau ke lokasi Roadshow Satu Hati, atau menjadi sukarelawan yang melakukan ide kegiatan sosial sesuai kreativitasmu, atau bahkan hanya dengan berunjuk bakat! Info lebih lanjut, kunjungi http://satuhati.com lalu mulailah kita berbagi! :)

Islam Mengajarkan Kita Menyayangi Binatang

Orang yang tidak menyayangi maka tidak disayangi (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala).” (HR. Al-Bukhari no. 6013)

Siang ini saya dibuat marah oleh berita di tv: ulat bulu sedang banyak menyerang berbagai kabupaten, lalu karena panik, masyarakat membunuh ulat bulu yang sedang menempel di pohon itu dengan cara dibakar. Ya Tuhan... :(

Sejak kecil saya dididik ibu saya untuk selalu menyayangi binatang dan tidak menyiksanya, apalagi membunuhnya. Jangankan membunuh tikus, membunuh kecoa hingga semut pun dilarang ibu. Kata ibu,

Jangan bunuh binatang sekecil apapun itu. Walaupun kecil, itu adalah nyawa. Kamu tidak bisa menciptakannya

Itulah ibu saya, sangat peduli dengan binatang. Sehingga kasus-kasus penyiksaan binatang selalu menjadi masalah bagi kami, termasuk pembakaran ulat bulu tadi. Lalu teman saya memberitahu, "kalau tidak salah, Islam melarang umatnya membunuh binatang dengan cara dibakar, Mit." Saya antusias mendapatkan sedikit pencerahan ini. Maka saya langsung googling, apakah benar Islam melarang membunuh binatang dengan cara dibakar? Dari hasil googling itu, saya justru menemuan fakta baru dari website yang saya temukan ini:

Islam mewajibkan kita untuk menyayangi semua binatang dan dengan keras melarang kita menyiksa binatang dengan cara apapun. :)

Bahkan dalam website tersebut, ternyata Islam mengajarkan umatnya untuk memperhatikan hak-hak binatang. Seperti memberikan makanan dan minuman, tidak memeras tenaga binatang, diwajibkan untuk menajamkan pisau yang akan dipakai untuk menyembelih, dilarang menjadikan binatang yang hidup sebagai sasaran dalam latihan memanah dan semisalnya.

Nabi Muhammad SAW pun pernah memarahi seseorang yang memeras tenaga unta peliharaannya. Nabi SAW berkata,

Tidakkah kamu takut kepada Allah SWT dalam (memperlakukan) binatang ini yang Allah SWT menjadikanmu memilikinya? Sesungguhnya unta ini mengeluh kepadaku bahwa kamu meletihkannya dengan banyak bekerja.

Saya senang sekali mendapatkan informasi ini. Bahwa sesungguhnya Islam adalah agama yang penuh cinta dan kasih sayang, kepada manusia maupun binatang. :)

Pak Zamzam, Guru Inspirasi

Pagi ini saya dibuat terharu hingga menitikan air mata karena membaca cerita dari Artasya tentang Pak Zamzam, guru agama SD Al-Azhar Pusat. Beliau bukan guru saya, namun saya senang membaca cerita tentangnya yang diceritakan oleh Artasya di Twitter. Inilah sosok guru yang luar biasa, yang harus dicontoh para guru, terutama guru Indonesia. Sayang jika cerita indah ini hanya termakan oleh tweet-tweet baru, hingga hilang. Maka saya rangkum dan bagikan disini. Semoga kita semua terinspirasi. :)

@myARTasya:

Semalam saya mimpi guru SD saya dulu. Namanya Pak Zamzam. Beliau amat sangat luar biasa. Bangun-bangun saya merindukannya... Jadi pengen cerita tentang Pak Zamzam. Boleh ya tweeps, karena dia juga salah satu orang yang sangat menginspirasi saya...

Pak Zamzam itu resmi menjadi guru di Al-Azhar Pusat waktu saya kelas 3 SD. Tepatnya di kelas 3A dan wali kelas saya Ibu Atiah. Pak Zamzam masuk sebagai guru agama. Dahinya ada tanda berwarna keunguan. Katanya guru-guru dulu sih karena sering sholat dan bersujud. Kulitnya sawo matang, tinggi sekitar 168 cm, tidak gemuk, selalu berpeci, dan senyum teramah di dunia adalah ciri khas Pak Zamzam. Setiap pagi Pak Zamzam selalu berdiri di depan gerbang untuk menyapa murid, baik yang dia ajar maupun yang tidak. Pak Zamzam stay di depan gerbang dari pukul 6 dan baru akan masuk setelah bel berbunyi pukul 7. Anak-anak biasanya akan berebut salaman dengan beliau.

Suatu hari di Al-Azhar Pusat diadakan lomba bercerita tentang para nabi. Ga tau kenapa pengen aja gitu ikutan. Waktu itu saya kelas 5, 5D tepatnya :D Setelah milih-milih nabi mana yang mau jadi bahan cerita, pilihan saya yang pertama adalah Nabi Ibrahim.

Waktu itu lombanya pas pulang sekolah. Peserta yang mendaftar sekitar 15 orang, dibagi menjadi 3 hari berturut-turut. Lomba diadakan di aula sekolah pada saat jam pulang. Saya dapet giliran itu pas yang hari kedua dan peserta terakhir di hari itu pulaakk! Siape juga yang nonton? Udah pada pulang kaliii (-______- ) Pas peserta sebelumnya mulai, dari belakang panggung saya liat penonton mulai pada pulang. Udah feeling sih, ini mah pas giliran gue, aula kosong. Bener lho, saya naik panggung itu yang nonton cuma: ......... rumput yang bergoyang, juri, dan peserta sebelum saya. NAH! Salah 1 jurinya itu Pak Zamzam!

Pas ending, mungkin intonasi suara saya seakan bersambung. Jadi juri masih pada bengong. Saya juga X) Hari itu rasanya kaki tak bertulang, keringat saya bisa jadi sumur. Dalam hati pengen tereak, "udah selesai kalii!" Tapi juri masih diem nungguin saya lanjut. Kayanya suasana diem-dieman itu berlangsung 40 detik. Lama lho di situasi itu. Sampe salah satu juri, namanya Pak Satiri, nanya, "kamu lupa ceritanya?" Mau pengsan rasanya. Akhirnya saya jawab, "enggak, Pak. Udah selesai kan." Lalu Pak Zamzam berdiri dan tepuk tangan. Dia satu-satunya juri yang tepuk tangan. Pas liat asemnya ekspresi 2 juri lain, saya OPTIMIS: ga masuk final (-_____-) Tapi seenggaknya Pak Zamzam ga bikin saya drop-drop amatlah.

5 hari kemudian, Hari Senin, bertepatan dengan upacara bendera, diumumkan 3 besar dan SAYA MASUK LHO!! Wohooo! Bangga, norak, dan HERAN. Tapi masalahnya belum selesai. Ketiga finalis ini akan diadu lagi Hari Jum'at, saat khutbah sholat Jum'at di depan seluruh murid (baik laki-laki dan perempuan). Murid-murid dari kelas 4-6 bakalan denger kita bercerita. Makin banjirlah keringat saya waktu ngebayangin. Saya lirik Pak Zamzam, dia tersenyum. Akhirnya pulang saya langsung obrak-abrik rak buku, buat nyari cerita nabi siapa yang akan saya baca buat Hari Jum'at nanti. Semua satu-satu saya baca. Pilihan saya jatuh pada cerita Nabi MUSA :D Saya hafalin detail-detail cerita sampe taun-taunnya. DAN  ga hafal-hafal (-____-) Saya stress... Akhirnya saya datengin Pak Zamzam dan bilang, "Pak, saya mau mundur aja daripada malu-maluin nanti Hari Jum'at."

"Memang masalahmu apa?" tanyanya sambil tersenyum.

"Aku ga bisa apal-apal, Pak," sambil sodorin kertas catetan.

"Nak, cerita itu bukan untuk dihafal, tapi untuk dinikmati. Kamu senang membaca?"

"Sangat."

"Kalau kamu sudah dapat menikmati sebuah cerita, otomatis kamu akan mengingatnya dengan indah. Keindahan itulah yang nantinya akan kamu bagikan..."

Dulu beliau ngomong gitu, di kepala saya: OK, saya akan lebih santai membaca dan menikmati. Tapi kalo saya inget sekarang: GILA, KATA-KATANYA KEREN BGT! Akhirnya makin lama saya jatuh cinta sama cerita Nabi Musa.

Hari Jum'at tiba. JENG-JENG. Ngeliatin jam ke jam 10:45 tuh rasanya lamaaa banget. Setiap jarum jam nambah rasanya perut mules seada-adanya. Begitu 10 : 45 semua keluar kelas. Istirahat 15 menit, baru wudhu. 15 menit istirahat saya ke tempat Pak Zamzam. Kata-kata pertama saya pas liat muka beliau di ruang guru, "Pak, aku deg-degan dan aku ingin pipis terus." Pak Zamzam tersenyum dan bilang, "kamu punya waktu 15 menit buat ke kamar kecil dan deg-degan sepuasnya. Setelah itu lakukan sebaliknya." Nurut lah sayaaa. Saya deg-degan 15 menit boookkk! Ke kamar mandi mulu sampe akhirnya bel tanda wudhu dimulai. Abis wudhu, saya duduk di shaft murid perempuan seperti biasa. Nunggu dipanggil sama MC. Tegang gilaaaa... Pas dipanggil sebagai finalis terakhir, jantung kaya ketinggalan. Dan justru malah bagus, deg-degannya jadi ga berasa lagi. Saya sangat menikmatinya. Bercerita atau mendongeng sebuah cerita adalah berbagi, dan saya rasa belum ada yg lebih Indah dari itu. :)

Akhirnya Hari Senin, sekalian upacara bendera, pengumuman deh. Dan dan dan dan dan..... *gagap* Saya juara 1 lhooooooo!!!!!! Wohoooo! *joget* Waktu itu rasanya ga percaya, mau nangis dsb dsb. Dan yang kasih pialanya Pak Zamzam :') Saya megang piala kaya mau nangisss.

Saat istirahat, saya ke kantor guru nemuin Pak Zamzam. Saya kasih beliau gambar dan juga puisi judulnya "Guruku" Isinya saya lupa, ada di beliau. Dan jawaban Pak Zamzam adalah...

"kamu buat ini pas jam pelajaran apa Artasya?" KWAK KWAANGG. Ketauan saya ga nyimak di kelas, malah asik gambar @_@ Tapi abis itu dia tersenyum dan bilang,

terima kasih Artasya. Saya senang sekali. Semoga nanti, kau akan punya ceritamu sendiri.

Jadi saya yakin, saya begini juga adalah bagian dari doa beliau.

Saat saya ingin memberikan buku pertama saya, beliau sudah tidak ada. Waktu kuliah, saya dengar berita Pak Zamzam dipanggil Yang Maha Esa. Justru saat saya tau, kata teman saya beliau meninggal udah lama. :(

Senyum seorang Pak Zamzam mungkin sudah tidak ada, tapi dia telah mengukir jutaan senyum. Di hati banyak orang.

PS: Terima kasih Artasya, karena telah berbagi cerita indahmu dan mengijinkan saya menulisnya disini. Pak Zamzam pasti sedang tersenyum disana. :)

Membagikan Kaos Gratis #MengenangMunir Jogja

Horeee 20 Maret 2011 kemarin akhirnya saya membagikan kaos gratis #MengenangMunir ke tukang becak, tukang sampah, pedagang kecil, hingga mbak penjual sate. Kaos ini diproduksi dengan dana yang dikumpulkan dari hasil lelang kaos pada acara Mengenang Munir, 8 Desermber 2010 lalu.
Tentu saya tidak sendirian saat membagikan kaos. Dengan sebuah mobil box, saya ditemani sang pacar, Savior Band, dan juga Mbak Achi dari WOMAGZ. Beruntung saya ditemani mereka, karena ternyata pembagian kaos gratis hampir sesulit membagikan sembako. :(
Awalnya kita membagikan ke tukang becak depan Mirota Kampus. Suasana tenang dan asyik.

Lalu ke tukang becak di Terminal Terban, ke tukang becak, tukang sampah, tukang koran, dan pemulung di Jalan Sudirman.




Namun saat di Jalan Mangkubumi, kita kewalahan membagikan. Ada sekitar 20 orang menyerbu mobil box kami dan berebut meminta kaos. Padahal banyak dari mereka bukan tukang becak bahkan pengendara motor yang lewat. Nggak malu ya?  Maka dari itu saya tidak memiliki foto saat di Mangkubumi dan Malioboro. Namun setelah itu kami ke depan Jogjatronik dan memberikan kaos kepada para tukang becak dan andong yang lewat.

Sungguh menyenangkan, karena bisa menjalankan kewajiban saya sekaligus membahagiakan orang lain yang mendapatkan kaos. Tapi sedikit menyedihkan saat ada juga yang tidak mendapatkan kaos. Rasanya ingin membagikan ke semua orang. :(
Kaos masih ada yang harus dibagikan ke Jakarta, Bali, dan kota kelahiran Munir, Malang. Sampai jumpa di pembagian kaos gratis berikutnya! :)
PS: Kaos-kaos ini bukan milik saya, melainkan milik para peserta lelang kaos Munir 8 Desember 2010 lalu. Saya janjikan kepada mereka untuk membagikan kaos ini secara gratis ke rakyat kecil yang berusaha. Bukan ke teman saya atau siapapun yang tidak masuk dalam kategori itu. Mohon dimaklumi jika kota lain tidak dibagikan kaos gratis, ini karena keterbatasan kaos. Terima kasih. :)

Pelecehan Seksual & Tips Menghadapinya

Banyak yang mengira pelecehan seksual itu diperkosa atau dipegang bagian pribadinya. Seperti pembantu saya barusan, dia sedang menyapu di belakang saya, tiba-tiba heboh bertanya, "pelecehan seksual kenapa Mbak Mit? Ada yang diperkosa???!!!" (-____-)
Padahal tidak. Pelecehan seksual tidak harus diperkosa atau disentuh bagian pribadinya. Pelecehan seksual bisa berupa joke, rayuan, dipegang pundaknya, dicolek, atau hanya sebuah tatapan. Jika Anda merasa  risih bahkan jijik karenanya, itu semua sudah bisa disebut pelecehan seksual dan kita berhak untuk tegas atau bahkan marah untuk menyatakan keberatan atau menolaknya. Jangan malu atau tidak percaya diri saat menolaknya. Semakin kita terlihat malu atau lemah, semakin gampang dilecehkan.
Ada beberapa tips untuk menghadapinya. Jangan terlalu lebay tapi jangan terlalu lemah. Lebay itu baru disuit-suitin dikit udah marah-marah. Padahal laki-laki iseng itu banyak. Kalo semua yang iseng, padahal biasa aja, kita selalu marah, maka kita capek sendiri dan dianggap lebay. Jika ada laki-laki ngajak ngobrol, walau kita males, tanggapilah dengan ramah. Kadang laki-laki menjadi sungkan karena kita ramah lho. Saya pernah mengalaminya dan dia justru menjadi sungkan dan perlakukan saya dengan sopan. Kalo kita malah marah, mereka justru senang dan semakin menggoda.
Namun juga jangan terlalu minder atau lemah saat menghadapi pelecehan seksual. Dikit-dikit mikir, "ini aku lebay ga ya kalo marah" padahal kamu sudah sangat risih. Jangan! Jika sudah terterlaluan, marahlah! Jika mengalami pelecehan yang ringan, misal dipegang pundaknya atau dicolek dagunya dan Anda mengenal orangnya, maka kirimi dia pesan dari sms atau direct message di Twitter, "saya keberatan dengan perlakuanmu tadi. Jangan diulangi lagi." Jika pelecehan terjadi secara tiba-tiba, misal payudara diremas lalu orang itu langsung kabur, langsung hapalkan ciri-cirinya dan plat motornya. Jangan lupa teriaki dia "maling" agar orang di sekitarmu lebih sigap dan ikut mengejar dia.
Jika pelecehannya sudah termasuk berat misal dirayu dengan kata-kata yang menjijikan atau digandeng, maka tolak dengan galak dan tegas. Muka melotot, badan tegap, dan teriak sekencang-kencangnya. Jika sudah sangat jelas dia akan memperkosa, tetap tenang, hapalkan titik sensitif laki-laki pada gambar di bawah ini. Berusahalah tendang atau pukul sekuat mungkin di titik-titik ini.

Sebenarnya tips tidak hanya untuk saat kejadian saja tapi kita harus waspada sebelum ada kejadian. Misal jangan pulang malam sendirian, jangan melewati jalan sepi sendirian, jangan berbusana dan bertingkah terlalu menyolok di tempat yang rawan, dan  lain-lain.
Namun menghindari itu juga sulit, seperti menghindari pulang malam sendirian. Banyak yang bilang, karena tuntutan, misal pekerjaan, mereka harus pulang malam sendirian atau melewati jalan sepi sendirian. Tapi kita kan kita punya akal, kita harus menyiasatinya. Bukannya menyerah sampai disitu saja, lalu tetap pulang malam dan melewati jalan sepi sendirian dan berdoa semoga selamat. Emangnya kita Play Station yang punya banyak nyawa? Nanti kalo terjadi kejadian buruk baru menyesal dan ingin mengulangi saat sebelum terjadi kan?
Maka siasatilah. Misal saat harus pulang malam sendirian, siasati mulai dari  meminta bos memberi keringanan agar kita tidak pulang malam. Jika ditolak, cari teman laki-laki yang mau mengantarkan pulang. Jika tidak ada, minimal kita telepon ortu/teman/siapapun yang kita percaya saat kita dalam perjalanan pulang. Jika kita ada apa-apa, maka orang yang sedang kita telpon tau dan bisa langsung bertindak. Melewati jalanan sepi sendirian juga bisa disisati dengan menelpon orang yang kita kenal selama perjalanan. Atau carilah jalan alternatif yang ramai. Yang penting ramai dan aman, walau sampai rumah lebih lama, lebih jauh, atau lebih mahal. Lagipula kita ini priceless kan? ;)
Masih banyak lagi siasat sesuai dengan kapasitas dan keadaan kita. Kita punya akal, jangan hanya andalkan nasib dan doa dong. :)

Pelajaran dari Pengalaman Pelecehan Seksual

17 Maret 2010 sekitar pukul 01.00 WIB dini hari, saya dan pacar saya pulang dari keliling Jogja naik sepeda melewati Jalan Gejayan (pas depan Bank BNI Barat jalan). Saat itu saya iseng mendahului pacar saya sehingga kami berjarak 3 meter, saya di depan, pacar saya di belakang. Lalu tiba-tiba ada yang meremas payudara saya dari kanan. Saya hampir jatuh dari sepeda dan rem tangan kanan saya rusak. Saat itu serba cepat dan saya linglung. Saya masih mengira itu pacar saya, tapi tak mungkin sekurang ajar itu. Setelah 3 detik saya baru sadar bahwa yang meremas payudara saya adalah orang asing setelah melihat dia  laki-laki berkendaraan motor matic hitam, jaket hitam dan helm hitam lalu ngebut pergi. Ini pelecehan seksual. Saat itu saya hanya bisa berteriak memaki laki-laki itu namun dia sudah ngebut dengan motornya jauh sekali. Saya dan pacarpun tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan kami tak sempat membaca nomor polisinya.
Pulang sampai di rumah, saya ceritakan ke orang tua dan kakak lalu ke Twitter. Tak disangka selain respon keprihatinan, respon senasib juga banyak sekali. Banyak followers perempuan maupun laki-laki pernah dilecehkan seksual namun mereka malu dan takut bercerita kepada siapapun. Mereka mengaku berkat membaca cerita saya, mereka akhirnya menjadi berani bercerita pengalaman pelecehan seksualnya di Twitter. Malam itu saya dibanjiri banyak sekali cerita pelecehan seksual yang mereka alami. Semua saya simpan ceritanya agar tidak dilupakan begitu saja karena timeline yang terus berjalan.
Pada akhirnya saya bersyukur atas kejadian buruk yang menimpa saya malam itu. Bersyukur karena berkat kejadian itu, banyak korban pelecehan yang selama ini menyimpan sendiri beban moral akhirnya bisa bernapas lebih lega karena membaca cerita saya lalu akhirnya berani saling share cerita senasib. Cerita senasib tentu menghilangkan rasa malu dan membuat lebih kuat.
Maka jika ada yang pernah mengalami pelecehan seksual lalu membaca cerita ini, ayo ceritakan saja pengalaman burukmu, minimal kepada orang yang paling kau percaya. Selain bercerita membuat perasaanmu menjadi lebih lega dan menyebabkan orang yang senasib menjadi tidak malu untuk share cerita senasib, bercerita juga menyebarkan pesan kepada orang lain unuk tetap waspada dan menjaga keselamatan. Hanya sekali bercerita kita bisa menyelamatkan mental dan keselamatan orang lain. Hebat kan? So, ayo bercerita, jangan takut dan malu. You're not alone. :)

Fakta Sepedaan

Terima kasih atas ngetrendnya dunia persepedaan di Indonesia khususnya Jogjakarta. Saya yang tadinya lupa dengan adanya transportasi bernama sepeda sekarang justru otaknya tentang sepeda melulu dan kakinya gatel pengen nggenjot melulu.

<br>

Pertama kali saya nggenjot sepeda setelah bertahun-tahun tidak pernah nggejot adalah ketika mobil saya mogok padahal harus kuliah jam 7 pagi. Dari sinilah saya menemukan beberapa fakta tentang bersepeda. Saya jadi bangun tidur lebih awal, asyik menyiapkan pakaian yang cocok untuk bersepeda, lalu nggejot ke kampus. Sampai kampus justru kecepetan.  Tidak biasanya saya kecepetan masuk kelas. Saat dosen datang dan mengajar, saya heran, saya tidak ngantuk! Wow wow! Namun sayangnya, walau sepeda membuat saya tidak ngantuk di kelas, tapi sepeda membuat pikiran saya menjadi tidak fokus ke materi kuliah karena terus-menerus memikirkan nggenjot sepeda lagi. Sampai akhirnya kuliah selesai, saya kegirangan, lalu nggejot pulang. Sampai rumah ngos-ngosan sehingga terpaksa tidur. Perlu dicatat, saya juga jadi lupa makan! Bangun tidur kaki gatel lagi pengen nggenjot lagi. Lalu malamnya saya dan pacar nggenjot dari Jalan Kaliurang sampai Malioboro dan pulang hingga pukul 1 malam lalu tertidur pulas. Bisa ditebak besok paginya kaki saya gatel pengen apa? Hehehe.

<br>

Itulah faktanya, sepedaan itu nagih. Bagi yang tidak punya sepeda, jangan pernah mencoba nggenjot, karena jika sudah ketagihan padahal tidak punya sepeda itu akan sangat menyakitkan jiwa dan raga.

Gerakan Agar Sinetron Indonesia Harus Mendidik

putriyangditukar

Apakah sinetron harus mendidik? Saya tak pernah merasa terdidik saat menonton Opera Van Java atau Ceriwis. Yang saya rasakan hanya terhibur, bisa tertawa, dan meniru cara mereka melucu. Atau tidak sekedar meniru, tapi improve joke-nya.

Oh mungkin inilah yang disebut mendidik. Apa yang kita saksikan dapat menjadi potensi yang positif di kemudian hari. Menonton Sule yang sangat lihai bermain kata lucu di Opera Van Java, membuat kita kreatif karena kita diberi pertunjukkan yang kreatif. Otak kita harus berfikir saat menerima maksud guyonannya lalu di kehidupan kita bisa menirunya untuk menghibur orang lain. Para pelawak lainnya pun merasa harus lebih lucu dari Sule dan mereka berusaha berlatih melucu agar mengalahkannya. Secara tidak langsung Sule telah mendidik kita. Mendidik para penonton maupun saingannya. Begitulah entertainment, memberi contoh yang baik yang bisa kita tiru untuk di kehidupan masyarakat dan bisa menjadi pemicu kualitas entertainer lainnya.

Film Amerikalah yang selama ini paling banyak menghibur sekaligus mendidik saya. Menunjukkan saya betapa sulitnya membuat film, betapa sulitnya membuat cerita, betapa sulitnya berakting, betapa banyaknya sejarah dunia, hingga betapa manusia memiliki banyak karakter yang akan kita temui seumur hidup. Film Amerika secara tidak langsung mendidik para penonton dan para pembuat film lainnya.

Lalu bagaimana dengan sinetron Indonesia? Seperti yang diceritakan kakak saya, Mas Herman, dalam sinetron Putri Yang Ditukar, adegan-adegannya sungguh tidak masuk akal dan tidak mendidik. Adegan menyelamatkan diri dari api terlalu mengada-ada. Apakah bisa ditiru di kehidupan nyata? Tidak hanya itu, apakah produksi sinetron ini telah memanfaatkan kreatifitas anak bangsa? Tidak. Apakah ada perkembangan yang signifikan dalam memperbaiki kualitas sinetron? Tidak. Tayangan sinetron Indonesia tidak berkembang. Karena sudah dianggap memuaskan konsumen Indonesia, lalu stagnan disitu saja. Tidak diperbarui, tidak menambah kualitas, tidak membuat para produsen sinetron berkompetisi untuk membuat yang berkualitas dan menakjubkan. Otak penonton dan pembuat sinetron menjadi seperti sinetronnya, stagnan tak berkualitas.

Maka ya, sinetron kita tidak mendidik penonton maupun pembuatnya. Tidak memberi contoh yang bermutu dalam kehidupan masyarakat dan tidak memberi efek kompetisi yang berkualitas di kalangan pembuat sinetron.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Ada protes yang dilakukan oleh seseorang yang misterius. Protes ini menarik dan kritis. Kita diajak untuk mengumpulkan koin untuk menyumbang para pemain sinetron Indonesia agar tidak membintangi acara tidak bermutu dan berkualitas seperti Putri Yang Ditukar, Cinta Fitri, dan sebagainya. Mari bergabung di Gerakan Koin untuk Artis Putri Yang Ditukar. Hingga saat ini sudah ada 1,339 member yang turut mendukung. Semoga kemuakkan kita bisa membuat mereka berfikir dua kali dalam memproduksi tayangan tidak mendidik.

Baca juga:

  1. Absurditas di Putri yang Ditukar – Nonadita
  2. Gerakan Koin untuk Sinetron Putri yang Ditukar – Herman Saksono
  3. Masih Mau Nonton Sinetron? – Leksa
  4. Belajar dari Nodame – Suprie
  5. Kualitas Buruk yang Terus Dipertahankan – Aankun
  6. Homo Sinetronosus – Pak Guru
  7. #41: Sinetron – Masova
  8. Ikutan Membahas Sinetron – Adhi Pras
  9. Sinetron Indonesia Miskin Cerita – Fudu
  10. Menalar (Polemik) Sinetron – Gentole
  11. Balada Argumentasi Sinetron yang Tertukar-tukar – Amed
  12. Putri yang Ditukar – Mamski
  13. Pilih Sinetron atau si Bolang? – Memethmeong
  14. Jangan Tukar Isu Putri Yang Ditukar - Nonadita
  15. Putri yang Ditukar – Wikipedia (coba baca deh plot awalnya, harusnya Ikhsan meninggal)
  16. Yang Putri Yang Ditukar – Choro
  17. Barang Yang Sudah Terlanjur Dibeli Tidak Dapat Ditukarkan – Joesatch
  18. Masygul – Aris

MICROSOFT BLOGGERSHIP 2011: Membantu Indonesia dengan Internet

  

 

Pernah ada seorang teman yang mencibir saat saya mengusulkan agar tulisan-tulisan politiknya dimasukkan di internet seperti Twitter atau blog. Dia tidak setuju karena lebih baik mengirimkannya ke surat kabar walau hanya ke surat kabar yang terkenal mesum itu, harus menunggu lama, atau bahkan menerima kenyataan tulisannya tak pernah dimuat. Dia lebih memilih begitu. Karena baginya, internet adalah dunia maya, banyak tipuan, tidak bertanggung jawab, dan tidak bisa membantu rakyat. “Kamu membuang-buang waktumu untuk sesuatu yang tidak bertanggung jawab dan berguna untuk rakyat, Mit.” Dia salah. Saya yakin internet justru kebalikan dari dugaannya. Bagi saya, internet adalah tempat untuk membangun nama baik dan akhirnya dapat membantu kita menciptakan suatu aksi positif. Dalam dunia internet, mereka yang tidak bertanggung jawab akan tereliminasi dengan sendirinya dan mereka yang sudah terpercaya akan mudah mendapatkan dukungan. Namun saya tidak punya bukti kuat dalam berargumen dengannya. Saat itu saya belum pernah menggunakan internet hingga selevel itu. Tapi Tuhan memang baik. Sayapun dibantu-Nya untuk membuktikan bahwa teman saya itu salah. :D 

Mimpi saya adalah membantu Indonesia, maka saya ingin membuktikan bahwa internet mampu memfasilitasinya. Di Bulan Agustus lalu, saya dan geng (Muthia, Ajeng, Adel, Depoy, dan Nadda) berniat mengunjungi Panti Asuhan Sayap Ibu Khusus Anak Cacat di Jogja. Kami ingin membelikan kebutuhan mereka dan membawakannya kesana. Dari sini munculah ide, kenapa tidak kami menggalang dana dari Twitter dan blog? Teman-teman saya setuju dan kami mulai mengumpulkan sumbangan dari Twitter kami. Sungguh mengagetkan, hanya dalam waktu 4 jam, sumbangan yang terkumpul sebesar 3 juta rupiah! Kepercayaan dari para followers tentu tidak boleh diremehkan. Lalu muncul lagi ide, kita harus bertanggung jawab dengan melaporkan seluruh proses kegiatan menyumbang panti ini di Twitter. Maka seluruh proses kegiatan kami itu saya postingkan di Twitter dengan hashtag #SumbangPanti. Mulai dari mengambil transferan sumbangan di ATM, total sumbangan, kegiatan belanja, total belanja, hingga penyerahan sumbangan ke pengurus panti, semua saya laporkan dengan foto yang di-upload di Twitter. Ternyata followers kami sangat menyukainya. Tanggung jawab yang kami berikan membuat mereka semakin mempercayai kami. Bahkan ada salah satu pengacara ternama Indonesia men-DM saya, “jika ada aksi serupa, mohon saya dihubungi,” selanjutnya beliau selalu memberi sumbangan 3-6 juta. Semangat dan dukungan dari followers ini membuat kami terdorong membuat aksi serupa ke panti asuhan lain, yaitu Panti Asuhan Gotong Royong Jogja. Hanya dalam waktu 2 hari, melalui Twitter kami dapat mengumpulkan sumbangan sebanyak 6 juta rupiah. Tentu kami tidak lupa untuk tetap melaporkan seluruh proses kegiatan sumbang panti ini di Twitter kami masing-masing. 

2 pengalaman sebelumnya membuat kami lebih mudah dalam menggalang dana untuk para korban bencana Merapi. Kali ini kegiatannya kami sebut #PeduliMerapi. Dengan dibantu teman-teman lain, celeb Twitter, dan akun Twitter khusus bencana Merapi, kami berhasil saling bertukar info bantuan untuk pengungsi. Dari penyebaran info yang begitu cepat dan luas ini, membuat kami berhasil menggalang dana yang cukup besar. Dalam waktu kurang dari 1 bulan, sumbangan untuk korban Merapi yang dipercayakan kepada kami terkumpul lebih dari 90 juta rupiah! Uang yang tidak sedikit untuk dipercayakan kepada remaja seusia kami. Tapi mereka percaya dan justru terus mendukung kami. 

Sangat luar biasa merasakan kepedulian rakyat Indonesia saat itu. Sampai-sampai saat diwawancara secara live oleh sebuah radio ibukota dan disambungkan dengan seorang pemerintah bagian bencana, saya menangis. Saya menangis karena tidak kuat menahan haru dan bangga bahwa rakyat Indonesia, dengan internetnya, dapat menyumbangkan informasi dan kebutuhan hidup korban bencana jauh lebih cepat dari pemerintah. :’) 

 

Namun ternyata kepedulian rakyat Indonesia tidak hanya sebatas untuk para korban bencana dan kemiskinan saja, tetapi juga untuk kasus-kasus sosial lainnya. Terbukti dengan besarnya kepedulian mereka mengikuti gerakan yang saya adakan tanggal 8 Desember lalu, untuk mengenang tokoh HAM Indonesia, Munir. Awalnya saya berencana mengadakan lelang kaos Munir di akun Twitter saya saja. Tetapi ternyata rencana gerakan saya ini mendapat dukungan yang sangat kuat dari berbagai tokoh Indonesia. Mulai dari wartawan, sutradara, penyanyi, hingga anggota DPR. Semua saya temui dari Twitter. Salah satunya seorang sutradara Angga Sasongko. Berkat Mas Angga, info ini sampai ke Glenn Fredly. Keduanya mendorong saya untuk membuat acara ini menjadi acara yang bisa dihadiri oleh masyarakat. Karena dorongan mereka, saya menjadi sangat bersemangat dan menyanggupinya. 

Saya membuat acara ini tanpa team. Untung internet membantu saya mendapatkan dukungan. Mulai dari penyebaran info di internet dan media massa, design kaos Mengenang Munir, bintang tamu (Glenn Frendly, Pandji Pragiwaksono, Efek Rumah Kaca, dan Positive Energy), sound system, hingga venue dan sumbangan 10% keuntungan dari Es Teler 77, saya dapatkan dengan sangat mudah dan semua gratis! Sekali lagi, semua bantuan dan dukungan saya dapatkan hanya dari internet. 

Acara malam itu sukses dengan terjualnya seluruh 45 kaos Munir melalui lelang tertinggi 5 juta dan terendah 250 ribu. Padahal tidak mengeluarkan biaya sedikitpun tetapi justru mampu mengumpulkan dana kampanye Munir lebih dari 30 juta dalam semalam! Banyak yang memuji saya karena keberhasilan ini. Seperti saat di tengah keramaian tamu acara malam itu, istri Munir, Suciwati, memeluk saya dan berkata, “kamu hebat sekali melakukan ini semua sendirian!” Sayapun menggeleng-geleng dan berkata padanya, “bukan saya yang hebat Mbak, tapi rakyat Indonesia dengan internetnya.” Mbak Suci hanya tertawa dan tambah memeluk saya. ;) 

Itulah internet, mampu mewujudkan mimpi saya untuk membantu Indonesia. Mengingat teman saya yang meremehkan kemampuan internet itu sudah tidak penting lagi. Yang lebih penting, apa lagi ya yang bisa saya lakukan untuk Indonesia? Membuat aksi melindungi TKW? Membuat rumah peduli hewan terlantar? Menciptakan perpustakaan di desa? Atau kampanye internet murah dan cepat? Banyak sekali dan semua pasti dapat diwujudkan dengan internet. Tetapi saya tidak mungkin bisa melakukannya sendirian. Ada yang ingin membantu? Sini saya gandeng. :)