Aksi Damai Kamisan, Aksi Melawan Diam

Kamisan adalah aksi damai sejak 18 Januari 2007 dari para korban maupun keluarga korban pelanggaran HAM di Indonesia. Mereka adalah korban '65, korban Tragedi Trisakti dan Semanggi '98, korban tragedi Rumpin, dan korban pelanggaran HAM lainnya. Setiap Hari Kamis Pukul 16.00 hingga 17.00 di depan Istana Presiden, mereka berdiri, diam, berpakaian hitam, dan berpayung hitam bertuliskan berbagai kasus pelanggaran HAM. Mereka juga mengirimkan surat kepada presiden, menggelar spanduk, foto korban, dan membagikan selebaran untuk para pengguna jalan. Hitam dipilih sebagai lambang keteguhan duka cita mereka yang berubah menjadi cinta kasih mereka pada korban dan sesama, payung sebagai lambang perlindungan, dan Istana Presiden sebagai lambang kekuasaan. Ketika hak hidup keluarga tidak mendapat perlindungan dari negara, Tuhan akan melindunginya.

Kamis 8 Maret 2012 lalu akhirnya saya berkesempatan mengikuti Kamisan di depan Istana Presiden. Sebenarnya tidak tepat di depan istana tetapi di seberang istana. Di depan istana dikelilingi kawat berduri dan tentara-tentara berwajah siaga jika ada yang mendekati istana sehingga tak mungkin aksi ini berlangsung tepat di depannya. Sampai disana yang terlihat beberapa mahasiswa dan pendemo yang sudah lanjut usia. Mereka berdiri di depan foto-foto korban pelanggaran HAM dan sebuah spanduk "AKSI DIAM MELAWAN IMPUNITAS" sambil memegangi payung hitam bertuliskan anti pelanggaran HAM. Beberapa dari mereka melalui perjalanan panjang menggunakan kendaaraan umum untuk mengikuti aksi ini. Hati saya merinding.

Saya beranikan diri berkenalan dengan sosok ibu kurus, berambut putih, berbusana hitam-hitam, bernama Ibu Sumarsih. Ibu Sumarsih adalah Ibu dari Wawan, mahasiswa yang ditembak sniper pada saat kerusuhan '98. Dengan ramah ia menerima saya dan menjawab pertanyaan saya mengenai sejarah aksi Kamisan. Walaupun saya yakin pertanyaan itu sudah ratusan kali ditanyakan kepadanya, namun ia menjawab dengan antusias, dengan sangat detail, dengan mata berbinar-binar. Dan walaupun sampai Kamis ke-249 tak pernah satupun ditanggapi oleh SBY, walaupun 194 surat tak pernah satupun dibalas oleh SBY, namun tak ada sedikitpun dari ucapannya yang terdengar pesimis. Dari jawabannya terdengar sekali bahwa ia yakin suatu hari nanti perjuangannya akan berhasil.

Hari ini, Kamis 15 Maret 2012, Kamisan ke-250. Angka yang cantik untuk diperingati. Dibantu dari berbagai tokoh dan aktivis, hari ini mereka masih berusaha memohon kepada presiden untuk menanggapi mereka, menindak para pelanggar HAM, membantu mereka mendapatkan keadilan. Semoga Kamis ke-250 ini SBY membuat sejarah keadilan yang baru di Indonesia: melawan diam.

PS: Saat saya menuju Istana Presiden, saya salah turun halte busway dan dibohongi ojek. Jadi saya harus jalan cukup jauh dan sempat jatuh hingga ditolong bapak-bapak :| Setelah itu saya bertemu kucing yang lucu sekali. Saya ikuti dia untuk saya foto. Saya tidak sadar saya memasuki area istana, membuat beberapa tentara istana kaget kenapa ada cewek bodoh berani memasuki istana. Padahal saya ga sadar itu istana. Untung saya ga ditembak. Namun semua kejadian aneh itu terbayar setelah bertemu Ibu Sumarsih, Pak Bejo, Pak Boediono, dan Ibu Neneng. Saya harus kesana lagi.

Anda Massery atau Lorch?

Foto yang diambil oleh Will Counts pada tahun 1954 di atas menggugah pagi saya. Seorang siswa kulit hitam, Elizabeth Eckford, yang sedang menuju gedung sekolah Little Rock harus mendengarkan berbagai cacian dari warga dan siswa lain mengenai rasnya yang dinilai tak pantas masuk sekolah. Salah satu perempuan kulit putih di belakangnya tampak sedang berteriak mencacinya penuh kebencian, namanya Hazel Massery.

Pada hari itu Eckford yang sudah menuju sekolahnya harus pulang karena dihalangi pasukan garda nasional perintah Gubernur Arkansas. Eckford tak dapat menahan tangisnya. Seorang reporter The New York Times, Benjamin Fine, merasa iba kepadanya. Ia lalu duduk di samping Eckford dan berkata, "Don't let them see you cry." Setelah itu, seorang wanita bernama Grace Lorch mendatanginya dan mengantarkan Eckford naik bus, sehingga membuat Eckford merasa aman.

Setelah kejadian itu, Lorch menjadi target bully selanjutnya. Dinamit sempat dilemparkan seseorang ke garasinya. Anak Lorch, Alice, menjadi korban bully di sekolahnya. Media mencacinya. Akhirnya keluarga Lorch menyadari mereka telah di-blacklist dan mereka memutuskan pindah ke Kanada. Lorch mendapatkan perlakuan buruk dari masyarakat hanya karena menolong gadis berusia 15 tahun yang sedang menangis.

Kejadian itu menjadi berbalik pada masa sekarang. Mereka yang dahulu membully kulit hitam, sekarang menjadi target bully masyarakat. Cacian juga berbalik arah kepada Massery. Ia akhirnya menyesali perbuatannya dan meminta maaf kepada Eckford lewat The Oprah Winfrey Show. Sementara Grace Lorch, yang dahulu mendapat perlakuan sangat buruk dari masyarakat, sekarang namanya menjadi sangat harum. Masyarakat memberikan apresiasi kepadanya.

Tahun 2008, 54 tahun kemudian, seorang kulit hitam bernama Barack Obama terpilih menjadi presiden AS. Sebuah sejarah besar yang menunjukkan diskriminasi terhadap kulit hitam sudah tiada. Ya jaman sekarang seakan-akan sudah berubah. Bahwa masyarakat sudah lebih terbuka dan penuh toleransi. Namun tidak. Jaman sekarang masalah diskriminasi kepada ras sudah selesai namun diskriminasi selanjutnya muncul. Berikutnya kepada kaum gay. Jamey Rodemeyer, seorang remaja gay 14 tahun dari New York berusaha keras selalu menghibur dirinya yang selalu dibully oleh teman sekolah dan komen-komen di blognya. Salah satu komen yang paling jahat yang pernah diberikan kepadanya adalah: "I wouldn't care if you died. No one would. So just do it :) It would make everyone WAY more happier!" September 2011 lalu, Rodemeyer ditemukan bunuh diri di rumahnya. Setelah kematiannya pun, kakak perempuan Rodemeyer masih saja mendapat cacian dari teman-temannya. Salah satunya, "We're happy Jamey's dead."

Suatu hari semua akan berbalik arah juga. Mereka yang sekarang menghina dan menghakimi kaum gay akan menjadi bahan cacian di masa datang. Namun masalah kebencian baru lainnya pun akan muncul, lalu selesai, lalu muncul lagi, lalu selesai, lalu muncul lagi, dan seterusnya. Ada apa dengan manusia? Mengapa jiwanya penuh kebencian, merasa yang paling normal, paling benar, sehingga berhak menghakimi orang lain yang terlahir tidak seperti kebanyakan orang?

Tapi pertanyaan utama saya bukan itu. Pertanyaan saya untuk hati Anda yang paling dalam, seperti siapakah jiwa Anda? Seperti Hazel Massery atau Grace Lorch? Jika Anda sadar selama ini Anda bertindak seperti Hazel Massery, tunggu saja, 50 tahun lagi atau kurang dari itu, semua akan berbalik dan Anda akan menyesalinya. Sejarah telah membuktikannya. Maka berhenti mengurusi dan menghakimi kehidupan orang lain yang tak pernah merugikan kehidupan kita.

Postingan terkait: Dian Paramita - Gay Dian Paramita - A Mother of Gay

Perokok dan Jiwa Egoisnya

Saya bukan perokok tapi saya tidak membenci rokok. Sudah terlalu biasa hidung saya mencium asap rokok. Orang meributkan efek samping dari merokok. Banyak cewek melarang cowoknya merokok agar tidak sakit. Entah mengapa, urusan ini saya cuek saja.
Namun fakta bahwa perokok itu egois memang benar. Mereka seperti membuang hajat dimana-mana tanpa mempedulikan ada yang akan menginjak hajatnya dan baunya akan menempel sepanjang hari. Kadang lebih egois lagi saat berkumpul dengan teman-temannya, perokok meminta untuk duduk di tempat smoking area yang panas dan sesak. Semua yang mereka lakukan hanya untuk merokok. Memuaskan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan orang lain.
Saya tak begitu mempedulikan hal ini sebelumnya sampai ada suatu kejadian. Malam itu saya nongkrong dengan segerombolan teman-teman saya yang mayoritas merokok. Saya tidak mempedulikan asap mereka. Saya terus asyik ngobrol dengan teman yang duduk di samping saya. Saat sedang asyik mengobrol, dia mengambil bungkus rokoknya dan hendak menghidupkannya. Tiba-tiba dia hentikan niatnya, lalu bertanya kepada saya, "kalo aku merokok, kamu keganggu dengan asapnya nggak?" Dengan asal saya jawab, "iya." Saat itu juga ia masukan rokoknya kembali ke bungkusnya, ia letakkan meja, dan mengobrol dengan saya lagi. Saya kaget. Tak pernah saya bertemu perokok yang toleran seperti dirinya. Bahkan ia lebih menghargai waktu untuk mengobrol dengan saya daripada pergi menjauhi saya untuk menghirup rokoknya. Mengesankan. Saya tak akan pernah melupakan kejadian sederhana itu.
Terima kasih ya Kuring. Kamu berbeda dengan perokok yang lain.

Sustainable Palm Oil in Indonesia

I studied economics in Universitas Gadjah Mada. Every international economy class there is always a discussion about the palm oil production and its positive impact on the economy of Indonesia. At the same time I read the news about the oil palm companies are deforesting, slaughtering orangutans and other animal, as well as creating a conflict with local people who live around palm oil plantations.
How to encourage sustainable production of palm oil in Indonesia and continues to stimulate the economy, without any deforesting, animal slaughtered, and creating conflicts with local people? A tough question? Not really. Because the causes of the negative impacts of oil palm production is simple: laws and our government. Palm oil producers would not dare to open palm oil plantations in the region which is prohibited if the Indonesian government and the law firm forbids them. But it did not happen. Documentation Trans 7 highlights the trucks carrying the palm out of the Forest Protection Area in Kalimantan Tengah. In other words, they change the protected forest area for palm oil plantations. How could this happen? Because the law and the government let them or even give them permission.
So the sustainable palm oil will give more benefits to Indonesia if the government is able to act fairly and firmly to the palm oil business. If the government is not able to implement it, then it is we who should prosecute them to proceed. Remember, we live in a country with freedom of speech. It's our right to speak out our opinion, continue oversee the government and make the better Indonesia.

Mengomentari Mereka yang Sedang Menolong

Indonesia sedang membutuhkan pertolongan kita. Banyak masalah sehingga banyak yang harus ditolong. Bersama teman-teman, kami berusaha menolong semampu kami, sesuai yang kami pikir baik dan sesuai dengan kemampuan kami.
Namun tidak sedikit orang mengomentari aksi kami. Saya tidak masalah untuk dikritik. Kritikan itu baik. Namun kritikan itu berbeda dengan komentar. Kritikan sifatnya serius, ucapannya sudah dipikirkan terlebih dahulu secara luas, dan untuk sesuatu yang lebih baik. Sementara komentar, bagi saya sifatnya lebih asal, tanpa memikirkan ucapannya, tidak memikirkan masalah secara luas.
Saya beri beberapa contoh. Saat saya dan teman-teman saya membuat aksi Peduli Merapi, kami mengumpulkan dana lewat Twitter, kami belanjakan untuk kebutuhan pengungsi, kami foto kegiatan belanja hingga kegiatan penyaluran bantuan ke pengungsian dan kami share di Twitter. Lalu muncul komentar,

Halah, membantu aja pake di-share di Twitter. Bantu ya bantu ga usah pake pamer.

Tahukah dia bahwa share di Twitter itu bentuk pertanggung jawaban kami kepada para donatur karena kami sedang memegang uang mereka yang mereka percayakan untuk membantu pengungsi korban Merapi? Tega sekali menyebut kami pamer.

Itu detergennya kenapa yang itu? Itu kan ga ramah lingkungan!

Tahukah dia betapa kacaunya keadaan di Jogja saat itu? Bahwa keadaan di supermarket saat itu sangat hiruk pikuk. Banyak sekali relawan yang datang ke supermarket untuk membeli barang kebutuhan pengungsi. Kami tidak memiliki waktu untuk berdiri di depan rak detergen, membaca satu-satu mana yang ramah lingkungan mana yang tidak. Atau waktu untuk mengembalikan puluhan deterjen yang sudah masuk keranjang belanjaan untuk ditukar dengan detergen yang ramah lingkungan.
Sama juga saat saya membuat kampanye Mengenang Munir. Saya memang melakukannya sendiri tanpa team, tetapi saya banyak dibantu oleh beberapa celeb yang membantu meramaikan, media yang membantu memberitakan, pihak-pihak yang membantu menyediakan venue dan sound system gratis. Satu-satu saya beri ucapan terima kasih sesuai bantuan mereka melalui Twitter. Lalu muncul komentar,

Terima kasih terima kasih. Njuk koe mbantu opo? (Terima kasih terima kasih. Lalu kamunya bantu apa?)

Bingung. Saya sebagai inisiator dan penyelenggara kampanye justru ada yang menanyakan seperti itu. :(
Dan terakhir, pada kampanye Save Orangutans, yang saya dan teman-teman selenggarakan untuk meningkatkan awareness masyarakat mengenai kasus pembantai orangutan. Saat saya dan para celeb sedang beramai-ramai tweet tentang isu ini, muncul komentar,

Kenapa baru sekarang membuat kampanye seperti ini? Orangutan udah dibantai dari dulu!

Baru sekarang karena isu ini muncul di hadapan saya baru sekarang. Maka saya tergerak sekarang. Jika dari dulu saya tau, dan daridulu saya memiliki kemampuan seperti sekarang, saya tentu melakukannya sejak dulu.

Lalu bagaimana dengan penyu? Bagaimana dengan harimau? Kok cuma orangutan?

atau

Seharusnya kita menentukan skala prioritas. Manusia lebih prioritas.

Bagi saya, nyawa milik manusia, binatang, dan tumbuhan itu semua prioritas. Namun karena keterbatasan saya, saya tidak mampu memprioritaskan mana yang harus saya tolong terlebih dahulu. Saya ingin sekali menangani kelaparan di Indonesia, atau menangani seluruh binatang yang diperlakukan tidak etis di negri ini, atau menangani hutan-hutan yang dibabat habis oleh perusahaan sawit. Tapi saya bukan presiden, tentu saya tidak mampu menangani semua itu. Kemampuan saya belum pada level itu. Yang saya bantu sekarang adalah yang sesuai kemampuan saya. Sekarang level kemampuan saya untuk menolong para orangutan yang dibantai. Bukan pilih kasih, ini hanya masalah keterbatasan.
Tetapi jika Anda merasa ada makhluk hidup lain selain orangutan yang butuh pertolongan, kenapa tidak Anda lakukan? Anda tentu akan mendapatkan dukungan dari saya dan semua orang. Kenapa tidak memulainya? Ayo bersama-sama kita membantu Indonesia di segala kasus. Kemampuan masing-masing dari kita memang terbatas, namun jika bersatu akan luar biasa. Dan saya memohon agar Anda terjun dan lakukan sesuatu jika Anda merasa ada yang membutuhkan.
Dari segala macam komentar yang pernah datang, saya menjadi belajar kemampuan memilah kritik dan komentar, mana yang yang harus dijawab dan mana yang harus diabaikan. Saya juga mendapat pelajaran bahwa apapun masalah yang dihadapi saat berusaha menolong, jangan sampai mengganggu tujuan utama kita menolong mereka yang membutuhkan. Tulisan ini dedikasikan untuk membesarkan hati mereka yang sedang berusaha menolong tetapi sering menerima komentar kurang baik.

Undangan Lets #SaveOrangutans, 20 Desember 2011

Ada pembantaian terhadap orangutan di Kalimantan. Orangutan ditangkap, dipukuli hingga mati, lalu mayatnya dimutilasi. Berita mengatakan hal ini dilakukan karena orangutan dianggap hama sawit. Padahal sebenarnya mereka masuk ke perkampungan warga karena habitat mereka diambil untuk dijadikan kebun sawit. Warga yang berhasil menangkap orangutan hidup atau mati, akan diberi upah sebesar 500 ribu hingga 2 juta rupiah. Akibatnya, jumlah populasi orangutan di Indonesia semakin menurun, padahal orangutan merupakan salah satu hewan endemik Indonesia dan hanya ada di Indonesia. Jika hal ini terus dibiarkan berlanjut, status orangutan yang sudah hampir punah dapat segera berubah menjadi punah.
Kami ingin membuat masyarakat sadar dan turut peduli mengenai hal ini. Sehingga kami ingin membuat sebuah event agar dapat menyebarkan berita menyesakkan ini, agar kita bisa bersama-sama membantu orangutan. Untuk itu kami mengundang teman-teman untuk data pada Kampanye #SaveOrangutans,
Hari, Tanggal : Selasa, 20 Desember 2011 Waktu                : Pukul 19.00 - 21.00 WIB Tempat              : @america, Pasific Place, Lantai 3, Jakarta
Dengan pembicara antara lain Chairul Saleh (WWF), Rini (BOSF), Yolinda (Wartawan Trans 7), Arian (Musisi/Aktivis Orangutan). Yang akan dimoderatori oleh Marischka Prudence.
Isi acaranya antara lain memberikan fakta mengenai pembantaian orangutan di Kalimantan, tentang bagaimana keadaan orangutan, dan bagaimana cara menyelamatkannya. Di akhir acara akan diadakan pengumpulan sumbangan untuk penyelamatan orangutan.
Ketika event ini disusun konsepnya, kami membutuhkan venue sesuai acara dan akhirnya kami menemukan @america sebagai partner venue. Kami mengucapkan terima kasih banyak karena @america bersedia membantu menyediakan venue untuk acara ini. :)
Can't wait to meet you guys and let's help our orangutans! :)
PS: Venue tidak begitu besar sehingga siapa cepat, bisa masuk. Jika sudah penuh, ga bisa masuk. :D

Terima Kasih Sondang Hutagalung

Sondang Hutagalung, mahasiswa muda Universitas Bung Karno, yang nekat membakar dirinya tepat di depan Istana Merdeka Jakarta, Rabu, 7 Desember 2011 lalu. Ia meninggal dunia 3 hari setelah aksinya, Sabtu, 10 Desember 2011.

Sesaat setelah saya mengucapkan bela sungkawa terhadap kematian Sondang, ada seorang teman bertanya, "menurut kamu, aksi Sondang itu sebuah aksi kepahlawanan atau ketololan?" Saat itu saya merasa belum mampu mengomentari aksi Sondang. Too early for that. Saya merasa harus diam dulu. Mencermatinya dahulu.

Saya mulai membaca komentar-komentar masyarakat mengenai aksi Sondang. Banyak yang memuji dan menghormati aksi Sondang, tapi tak sedikit yang memberi komentar negatif dan kecewa.

Itu bukan aksi kepahlawanan. Itu aksi ketololan. Kenapa harus bunuh diri? Sondang masih bisa berguna untuk negri ini jika dia masih hidup. Apa dia tidak kasihan dengan keluarga dan teman yang dia tinggal?

Secara logika saya setuju. Namun hati kecil saya tidak setuju. Hati kecil saya mengatakan aksi Sondang tidak sia-sia. Aksi Sondang justru bermakna sangat dalam. Ia pantas disebut pahlawan karena aksinya. Namun saat itu saya tidak mampu menguraikan isi hati saya dengan kata-kata yang tepat.

Sampai akhirnya saya menemukan komentar insensitive,

Sondang itu frustasi.

Saya ikut sakit hati untuk Sondang karena komentar ini. Saya terpukul dan tak tahan untuk berdiam lebih lama. Saya merasa harus serius membelanya. Saya niatkan itu. Butuh waktu untuk memahami hati kecil saya, sehingga saya bisa mampu mengutarakan dengan kata-kata yang tepat. Sore ini saya berhasil memahaminya.

Kita telah memandang sebuah perjuangan dengan sempit. Bahwa perjuangan itu harus ada bentuk fisiknya, bisa dilihat, bisa dirasakan secara jelas, bisa langsung dimanfaatkan rakyat. Apakah perjuangan hanya sebatas itu? Tidak. Menyadarkan rakyat bahwa negara ini dalam kondisi yang sangat memprihatinkan adalah sebuah perjuangan baru.

Tepat pada Hari Hak Asasi Manusia, hal yang selalu Sondang perjuangkan, ia meninggal dunia. Namun kematiannya telah berhasil menunjukkan kepada dunia betapa prihatinnya Indonesia kita. Dia berhasil membuat kita terpukul, ada seorang anak bangsa yang membakar dirinya sendiri di depan istana negara untuk menunjukkan kekecewaan dan kemarahannya terhadap perlakuan pemerintah Indonesia atas rakyatnya. Ia mengorbankan nyawa dan meninggalkan keluarganya untuk sebuah niat memperbaiki negri ini. Perjuangan memang membutuhkan pengorbanan.

Mungkin ada banyak yang mengatakan aksi Sondang adalah aksi pesimis terhadap bangsa ini. Saya tidak setuju. Justru ini adalah aksi optimis. Mereka yang pesimis adalah mereka yang masa bodoh, tidak peduli dengan nasib bangsanya, dan memilih untuk peduli pada dirinya sendiri. Mereka yang pesimis adalah mereka yang tidak peduli bagaimana jalannya negara ini, asalkan ia masih bisa makan enak dan hidup tenang. Karena mereka yakin, apapun yang mereka lakukan tak akan merubah Indonesia. Sondang tidak pesimis. Saking cintanya ia kepada bangsa ini, saking sakit hatinya dia merasakan korban-korban pelanggaran HAM di negara ini, ia merelakan nyawanya untuk menunjukkan hal itu kepada kita. Sondang optimis bahwa bangsa ini masih bisa berubah menjadi bangsa yang lebih baik, jika ada yang mengingatkan. Sondang telah mengingatkan kita. Kita harus berubah. Inilah perjuangan baru.

Atas apa yang saya pahami sore ini, saya tak rela aksi Sondang dikatakan sia-sia, tak berguna, atau bahkan tolol. Aksinya jauh dari itu. Apa yang Sondang rasakan, seharusnya juga kita rasakan. Saya ingin kita menghormatinya atas perjuangnnya. Terima kasih Sondang, atas jasamu mengingatkan kita untuk mengubah bangsa ini dari kondisi yang memprihatikan. Salam untuk Tuhan yang berada di sampingmu sekarang. ;)

PS: I wish I knew you.

Kasus Kematian Sadis 3 Anjing St. Bernard oleh Johanes Indrajaya

Jumat, 4 Februari 2011, 4 anjing St. Bernard milik Christina diangkut oleh Johanes Indrajaya, pemilik jasa pengiriman hewan, Planet Petshop. Ia yang dipercaya memiliki pengalaman dalam mengirimkan binatang hidup ke luar kota telah memasukkan 2 anjing St. Bernard ke dalam sebuah kandang yang lebih kecil dari ukuran 1 anjing St. Bernard. Tanpa memberi mereka minuman dan justru menutupi lobang-lobang kandang dengan lakban, selama 15 jam 4 anjing itu dikirim dengan kereta Jakarta-Jogja. Keesokan harinya, 3 dari 4 anjing itu mati mengenaskan. Darah keluar dari mata, hidung, dan telinga mereka. Menurut dokter yang memeriksa, anjing-anjing itu kekurangan oksigen sehingga paru-paru mereka pecah.

Karena Christina menceritakan kasusnya di Kaskus lalu menjalar ke Twitter, kasus ini menjadi semakin diketahui masyarakat. Mereka ikut marah. Christina didukung untuk membawa kasus ini ke pengadilan. Didampingi Todung Mulya Lubis sebagai kuasa hukumnya, Christina menuntut Johanes. Tuntutan Christina inilah yang menjadi sangat penting. Ia menuntut kerugian 90 juta rupiah dan kerugian imaterial sebesar 1 milyar rupiah. Jika pengadilan mengabulkannya, Christina akan menyerahkan semua hasil tuntutannya ke yayasan dan organisasi peduli hewan di Indonesia.

Namun yang lebih penting lagi, jika tuntutan Christina dikabulkan pengadilan, Indonesia mencatat sejarah baru, bahwa penyiksaan binatang tidak dapat ditolerir lagi di negara ini. Bahwa negara ini telah melindungi kesejahteraan binatang. Ini akan membuat masyarakat Indonesia menjadi lebih berhati-hati dalam memperlakukan binatang.

Update Kasus:

  • Sidang pertama, 21 November 2011, Johanes maupun kuasa hukumnya tidak datang.
  • Sidang kedua, 12 Desember 2011, Johanes terlihat (ada bukti foto) sedang makan di J.Co Gadjah Mada Plaza. Ia akhirnya datang 15 menit sebelum sidang ditutup.
  • Johanes mengancam akan menuntut balik soal pencemaran nama baik.